Review Film It Was Just an Accident, Pergulatan Korban Kekerasan antara Dendam dan Perikemanusiaan
Selasa, 03 Maret 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Pernahkah kalian membayangkan, sebuah kecelakaan kecil yang tampaknya sepele, justru membuka kotak pandora penuh trauma masa lalu yang mengerikan? Inilah yang ditawarkan oleh Jafar Panahi dalam mahakarya terbarunya, It Was Just an Accident. Film pemenang Palme d’Or 2025 ini bukan sekadar thriller biasa, tapi sebuah tamparan.
Cerita dimulai dari Eghbal, seorang pria yang sedang berkendara bersama istri hamil dan putrinya. Di tengah jalan, ia tak sengaja menabrak seekor anjing. Mobilnya rusak, dan ia pun menepi ke sebuah bengkel milik pria bernama Vahid. Siapa sangka, Vahid adalah mantan tahanan politik. Dari suara langkah kaki dan bunyi kaki palsu Eghbal, Vahid merasa mengenali sosok tersebut. Ia yakin Eghbal adalah penyiksanya dulu di penjara—sosok yang ia kenal sebagai 'Peg Leg'. Masalahnya, dulu Vahid disiksa dalam keadaan mata tertutup. Ia tak pernah melihat wajah penyiksanya. Dari sinilah, sebuah rencana penculikan dan pencarian kebenaran yang menegangkan dimula.
Jafar Panahi kembali membuktikan dirinya sebagai sutradara yang tak gentar. Film ini dibuat secara ilegal di Iran tanpa izin resmi. Panahi menggunakan metafora kecelakaan untuk menggambarkan betapa 'rusak'-nya sistem di sana. Salah satu adegan paling menyentil adalah saat petugas keamanan meminta 'uang damai' menggunakan mesin debit portabel—sebuah satire tajam tentang korupsi yang sudah terstruktur.
Berbeda dengan thriller Hollywood yang penuh ledakan, film ini bermain di ranah psikologis. Ketegangannya dibangun lewat dialog dan ruang sempit di dalam van. Kita dibawa ikut ragu, apakah Eghbal benar-benar pelakunya? Ataukah trauma Vahid yang membuatnya memburu orang yang salah? Akting Vahid Mobasseri sangat luar biasa dalam menggambarkan dendam yang tertahan oleh nurani. Perhatikan detailnya. Di babak pertama, kita melihat karakter perempuan yang tidak mengenakan hijab—sebuah bentuk perlawanan nyata terhadap hukum opresif di negaranya.
Panahi tidak hanya bercerita, dia sedang melakukan protes melalui lensa kamera. Visualnya terasa sangat mentah dan realistis. Dengan minim musik latar, penonton dipaksa mendengarkan setiap deru napas dan gesekan langkah kaki, yang justru membuat suasana jauh lebih mencekam.
"It Was Just an Accident adalah film yang menyesakkan tapi sangat penting untuk ditonton. Ia mempertanyakan tentang keadilan. Apakah balas dendam bisa menyembuhkan luka? Ataukah kita justru menjadi monster yang sama dengan penyiksa kita? Bagi pecinta sinema yang mendalam, penuh satire, dan punya pesan politik yang kuat, film ini adalah must-watch. Tidak heran jika film ini menjadi wakil Prancis untuk Oscar 2026.
Gimana menurut kalian? Apakah Vahid benar-benar menemukan orang yang tepat, atau dia hanya terjebak dalam hantu masa lalunya? Tulis di kolom komentar ya! Jangan lupa like dan subscribe.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir
































.md.jpg)






