Hantavirus Jadi Sorotan Dunia, Ini Penjelasan Ahli soal Penularan dan Bahayanya
Jumat, 08 Mei 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah World Health Organization (WHO) melakukan pemantauan ketat terhadap dugaan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik. Dalam insiden tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, dengan satu kasus telah terkonfirmasi positif, sementara lima kasus lainnya masih dalam proses penyelidikan.
Kasus ini memunculkan kembali pertanyaan publik mengenai apa sebenarnya Hantavirus dan seberapa berbahaya infeksi yang ditimbulkannya.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa Hantavirus Pulmonary Syndrome merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh kelompok virus hantavirus. Virus ini memiliki reservoir utama berupa hewan pengerat, terutama tikus liar maupun tikus rumah.
Menurut Dicky, hantavirus pertama kali diidentifikasi di Korea Selatan pada tahun 1976 dan dinamai berdasarkan Sungai Hantaan, lokasi ditemukannya virus tersebut pada tikus sawah. Sementara itu, wabah besar yang sempat menghebohkan dunia terjadi pada 1993 di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, dengan tingkat kematian yang mencapai hampir 50 persen pada strain yang menyerang paru-paru.
“Reservoir utama dari hantavirus adalah hewan pengerat seperti tikus liar. Di Indonesia juga ditemukan pada tikus kota dan tikus rumah di beberapa lokasi, terutama di wilayah yang rawan seperti pelabuhan,” jelasnya.
Cara Penularan
Dicky menjelaskan, penularan hantavirus ke manusia paling sering terjadi melalui aerosol, yaitu partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi dan telah mengering, kemudian terhirup melalui udara. Penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi virus.
Dalam kasus yang lebih jarang, infeksi bisa terjadi akibat gigitan hewan pengerat pembawa virus. Namun, hantavirus umumnya tidak mudah menular antarmanusia, melainkan lebih banyak terjadi melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi.
“Pada kasus kapal pesiar yang sedang disorot dunia, investigasi masih berlangsung untuk melihat kemungkinan keterlibatan Andes virus, salah satu jenis hantavirus langka yang dalam kondisi tertentu pernah terbukti dapat menular antarmanusia dalam kontak sangat dekat,” tambahnya.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang, mengingat penyelidikan masih berlangsung. Meski demikian, hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan komplikasi serius pada sistem pernapasan dan berpotensi fatal.
Gejala dan Dampak
Hantavirus dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di paru-paru, kebocoran cairan, hingga gagal napas akut. Gejala awal biasanya meliputi demam, nyeri otot, dan tubuh lemas.
Namun, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat dalam hitungan hari, ditandai dengan sesak napas berat, penumpukan cairan di paru-paru, penurunan kadar oksigen secara drastis, hingga syok. Dalam dunia medis, kondisi ini menyerupai Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau gangguan pernapasan akut berat.
Tingkat fatalitas pada kasus hantavirus berat dapat mencapai sekitar 40 persen, terutama jika diagnosis terlambat atau fasilitas perawatan intensif tidak memadai. Hal inilah yang membuat penyakit ini tergolong berbahaya.
Menurut Dicky, tingkat keparahan penyakit tidak hanya disebabkan oleh virus itu sendiri, tetapi juga respons imun tubuh yang berlebihan yang memicu peradangan berat dan kerusakan paru-paru secara cepat.
“Yang berbahaya adalah kombinasi antara virus dan respons tubuh yang terlalu kuat, sehingga kerusakan paru-paru terjadi sangat cepat dan dapat berujung pada kegagalan pernapasan,” pungkasnya.





































