Puluhan Siswa SD/ MI Unjuk Bakat dalam Lomba Mendongeng BWBF 2026
Sabtu, 20 Juni 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Panggung utama gelaran Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 yang berlokasi di kawasan Alun-Alun Bojonegoro mendadak riuh oleh antusiasme anak-anak pada Jumat (19/06/2026) kemarin. Suasana semarak tersebut terjadi saat diselenggarakannya kompetisi Lomba Mendongeng Imajinasi untuk tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah se-Kabupaten Bojonegoro. Mengangkat tajuk utama Kain Istimewa Pemberian Raja, ajang adu bakat literasi ini sukses menyedot perhatian puluhan peserta yang tampil penuh percaya diri memamerkan kebolehan bertutur mereka di hadapan juri dan penonton yang memadati lokasi acara.
Satu per satu perwakilan sekolah dengan senyum merekah melangkah ke atas panggung untuk mengalirkan kisah-kisah imajinatif yang sarat akan pesan moral. Agenda ini sengaja dihadirkan sebagai ruang apresiasi bagi anak-anak dalam mengeksplorasi kemampuan olah vokal, mengasah daya kreativitas, sekaligus menggembleng mentalitas sejak usia dini. Tim penilaian lomba ini dipercayakan kepada para praktisi berpengalaman, di antaranya perwakilan Sanggar Dunia Imajinasi, perwakilan Sanggar Sedhet Srepet, serta perwakilan Sanggar Dongeng Indonesia, yang secara total menguji performa dari tiga puluh dua peserta.
Mewakili tim penilai, Agung Ridwan Asmaka menyampaikan apresiasi mendalam atas besarnya atensi dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam memfasilitasi potensi lokal ini.
“Acara ini didukung penuh oleh Pemkab Bojonegoro melalui Disbudpar Bojonegoro. Kita dikasih wadah sebagai anak muda untuk mengembangkan bakat. Ini bukan sekadar lomba, tapi bagaimana kita terus bertumbuh dan tetap belajar sepanjang hayat,” ujarnya.
Persaingan ketat dalam perebutan podium juara memunculkan cerita menarik dari para orang tua yang setia mendampingi buah hati mereka di belakang panggung. Kebanggaan besar dirasakan oleh Tiwi, ibunda dari Gefia Lebda Supratiwi asal SDN Jatiblimbing dua Dander yang dinobatkan sebagai peraih podium tertinggi. Menurutnya, sang anak memang sudah memiliki rekam jejak mumpuni di dunia peragaan busana sehingga tidak canggung lagi berhadapan dengan khalayak umum, bahkan seluruh persiapan tata busana dan riasan wajah dikerjakan secara mandiri oleh sang putri demi menyambut festival batik ini.
“Masalah baju dan riasan wajah dia sudah mempersiapkan sendiri dengan semangat untuk acara lomba dongeng di bojonegoro wastra batik festival ini,” ungkapnya.
Kisah perjuangan lain datang dari Roviatul Andevia, orang tua dari salah satu kontestan asal MIN satu Bojonegoro bernama Zadev Ahmad Sakha. Dirinya membeberkan bahwa persiapan matang telah dilakoni sejak awal bulan, mulai dari proses gubahan teks naskah cerita bersama sang anak hingga pembuatan pernak-pernik kostum. Meskipun putranya sudah sering melanglang buana mengikuti belasan kali perlombaan dakwah dan dongeng hingga ke level provinsi dan internasional, Roviatul selalu menekankan pentingnya menata mentalitas agar tidak melulu mengejar piala, melainkan memetik pelajaran berharga dari setiap panggung kompetisi yang diikuti.
Berdasarkan hasil rekapitulasi nilai akhir dari tim juri, peringkat pertama resmi disabet oleh Gefia Lebda Supratiwi yang merupakan siswi kelas enam SDN Jatiblimbing dua Dander. Sementara itu, posisi kedua berhasil diraih oleh Aerilyn Belivania Maysandhy dari SDN Kadipaten satu Bojonegoro, disusul oleh Almira Sofia Putri Hidayat asal SDN Pagerwesi Trucuk di urutan ketiga, serta kategori Juara Favorit yang berhasil diamankan oleh siswi kelas satu MI ICP Nurul Ulum Bojonegoro bernama Mazaya El Shanum.
Melalui kesuksesan pelaksanaan Lomba Mendongeng Imajinasi ini, rangkaian festival batik tahunan Bojonegoro tidak hanya sekadar menjadi ajang pameran produk industri kreatif semata. Lebih dari itu, momentum ini terbukti mampu menjelma sebagai wadah edukatif yang inklusif bagi tunas-tunas muda di bumi Angling Dharma untuk melestarikan tradisi lisan, memperluas wawasan literasi, sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya nusantara sejak dini.





































