Menuju Warisan Dunia, Pemkab Matangkan Persiapan Geopark Bojonegoro Masuk Jaringan Global UNESCO
Sabtu, 20 Juni 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro -Langkah nyata menuju pengakuan internasional terus digulirkan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama jajaran kementerian terkait dalam mengawal status kawasan Geopark Bojonegoro yang mengusung tema Unique Petroleum System. Komitmen tersebut dibuktikan dengan pelaksanaan studi lapang pra validasi hari kedua yang digelar pada Jumat (19/06/2026) kemarin oleh tim pendamping terpadu yang terdiri dari Komite Nasional Geopark Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional, perwakilan kementerian, serta jajaran pemangku kepentingan daerah. Peninjauan intensif ini sengaja dilakukan guna memotret secara riil kesiapan infrastruktur serta tata kelola seluruh situs warisan bumi yang nantinya akan dipaparkan secara langsung di hadapan tim asesor dunia.
Dalam agenda studi lapang hari kedua tersebut, rombongan tim pendamping bergerak menyisir sejumlah titik strategis yang menjadi pilar utama geopark di bumi Angling Dharma. Rangkaian kunjungan diawali dari Geosite Kedung Lantung, kemudian bergeser meninjau geliat ekonomi kreatif di sentra batik UMKM Desa Jono, menyusuri eksotisme Hutan Jati Gondang, memantau fenomena alam Mata Air Panas Banyu Kuning, hingga menikmati keindahan lanskap Negeri Atas Angin dan Geosite Kayangan Api. Tak hanya terpaku pada keunikan geologi, rombongan juga disuguhi sajian kesenian tradisional Cokekan sebagai representasi dari kuatnya jalinan warisan kebudayaan lokal yang masih dirawat dengan sangat baik oleh masyarakat Bojonegoro.
Di sela-sela peninjauan, Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Sunandar, mengutarakan pandangan positifnya mengenai potensi besar yang dimiliki daerah ini. Dirinya menganggap unsur-unsur dasar pembentuk geopark di wilayah ini sudah sangat solid karena adanya keterpaduan yang harmonis antara keunikan batuan, kekayaan flora-fauna, hingga adat istiadat warga setempat.
“Warisan geologi, biodiversity, dan cultural heritage yang dimiliki Bojonegoro sudah sangat baik. Tinggal beberapa hal yang perlu diperkuat agar semakin siap saat proses asesmen berlangsung,” ujarnya.
Senada dengan hal itu, Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia, Rudy Suhendar, memberikan catatan bahwa secara umum persiapan di lapangan sudah memperlihatkan progres yang sangat menggembirakan. Kendati demikian, dirinya mengingatkan bahwa hal paling krusial yang wajib diasah oleh tim daerah adalah kemampuan dalam merajut jalinan cerita atau narasi yang utuh, sehingga para pelancong maupun tim penilai dapat dengan mudah memahami keterkaitan ilmiah antar-situs sebagai satu kesatuan sistem geologi yang langka.
“Yang perlu dimatangkan adalah bagaimana cerita besar Geopark Bojonegoro disampaikan secara komunikatif, baik melalui media visual maupun penjelasan langsung di lapangan,” ungkapnya.
Rudy juga menambahkan bahwa visualisasi dan metode penyampaian informasi di beberapa objek wisata unggulan harus terus ditingkatkan agar sisi edukasi ilmiahnya dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat sekitar. Segala macam masukan, catatan kritis, serta rekomendasi teknis yang dihimpun selama dua hari pelaksanaan studi lapang ini nantinya akan langsung dijadikan cetak biru bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk melakukan pembenahan total sebelum tahapan pra validasi resmi dimulai.
Melalui keseriusan dan jalinan sinergi yang terus dipacu ini, impian untuk membawa Geopark Bojonegoro masuk ke dalam jaringan UNESCO Global Geopark diharapkan dapat segera terwujud dalam waktu dekat. Optimisme ini bukan sekadar mengejar status gengsi semata, melainkan sebagai batu loncatan strategis dalam mempromosikan kekayaan alam dan budaya lokal ke panggung internasional, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan sektor pariwisata berkelanjutan serta pendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat Bojonegoro.





































