11 Warga Bojonegoro Anggota Gafatar Bakal Dipulangkan
Senin, 25 Januari 2016 10:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Tambakrejo – Sebanyak 11 orang anggota eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dikabarkan berasal dari Bojonegoro. Mereka kini masih berada di Asrama Transito Dinas Tenaga Kerja Tranmigrasi dan Kependudukan Pemprov Jatim. Sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Bojonegoro mereka mendapatkan pembinaan dan konseling.
Sebelas orang eks anggota Gafatar asal Bojonegoro, yaitu Iksan (37), warga Kecamatan Kapas, dan Sari Botno (33), warga Kecamatan Kasiman. Kemudian, Sujarno (34) bersama istrinya, Mariyatun (30), dan kedua anaknya, Nurul Fatmala (8) dan Axel Raihan Diandra Putra (3 minggu). Sujarno dan keluarganya berasal dari Kecamatan Tambakrejo.
Selain itu, Matrais (54), warga Kecamatan Sumberejo, bersama istrinya, Sri Ayomi (54), dan ketiga anaknya, Robert Ari Wibowo (21), Teresia Intan Devita Dewi (15), dan Takirada Karinda Zizah Damara (7).
Dari 11 orang tersebut tiga orang di antaranya tercatat pernah menjadi pengurus Gafatar Bojonegoro. Sujarno adalah mantan kepala bidang pendidikan, pemuda, dan olah raga Gafatar Bojonegoro tahun 2015. Mariatun adalah mantan kepala bidang peranan perempuan dan perlindungan anak merangkap kepala bidang kesehatan. Dan, Ikhsan tercatat mantan kepala bidang pertahanan dan keamanan organisasi merangkap kepala bidang hukum dan HAM.
Menurut Kepala Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Kabupaten Bojonegoro Kusbiyanto, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan kabar mengenai warga Bojonegoro yang menjadi anggota Gafatar. Namun, kata dia, pihaknya siap memfasilitasi pemulangan dan rehabilitasi warga Bojonegoro yang masuk eks Gafatar. “Kami siap membantu pemulangan kembali warga Bojonegoro yang pernah menjadi anggota Gafatar itu,” ujarnya.
Achmad Sobirin, salah seorang kepala desa di Kecamatan Tambakrejo, mengungkapkan, menurut keterangan dari ketua rukun tetangga setempat, Sujarno sempat mengurus surat pindah tempat ke Kalimantan. Di sana, kata dia, Sujarno bersama keluarga mengaku bekerja dan sudah membeli rumah seharga Rp 40 juta. "Tapi tidak tahu sampai sekarang ini surat pindah tempat itu belum diurus," ujarnya.
Keterangan dari orang tua Sujarno, menyebutkan Sujarno bersama keluarganya juga mengaku akan pindah tempat ke Kalimantan untuk bekerja dan membeli rumah di sana. Tapi, orang tua Sujarno tidak tahu kalau di Kalimantan anaknya itu ikut organisasi Gafatar.
"Ayah Sujarno baru tahu kalau anaknya ikut Gafatar setelah mendengar berita dari salah satu stasiun televisi. Lebih jelasnya lagi ketika melihat foto Sujarno di blackberry mesengger (BBM)-nya dengan background bendera Gafatar," tutur Ahmad Sobirin. (rul/kik)












































.md.jpg)






