News Ticker
  • Naik Motor Sambil Gunakan HP, Pelajar di Kalitidu Bojonegoro Tabrak Truk Parkir
  • Bupati Bojonegoro Hadiri Puncak Peringatan HPN di Dander
  • Kapolres Bojonegoro Pimpin Serah Terima Jabatan Kapolsek Kalitidu
  • Seorang Warga di Temayang Bojonegoro, Meninggal Dunia Disambar Petir
  • Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Bupati Bojonegoro Lakukan Pembinaan Tenaga Pendidik
  • Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Blora Gelar Pesta Siaga
  • Bupati Bojonegoro Serahkan Sertifikat Program PTSL di Desa Ngraho Kecamatan Gayam
  • Peduli
  • Pegawai dan Warga Binaan Rutan Blora Jalani Tes Urine
  • Wakil Bupati Bojonegoro Hadiri Rakernas dan Launching Gerakan Indonesia Bersih
  • Seorang Buruh Tani Warga Trucuk Bojonegoro, Meninggal Dunia Disambar Petir
  • Pengadilan Negeri Blora Deklarasikan Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM
  • Peringati HPSN, Polres Blora Kerja Bhakti di TPA
  • Peringati HPSN, Kapolres Bojonegoro Ajak Masyarakat Peduli Sampah
  • Terjerat Kasus Hukum, Kepala Desa Sukosewu Bojonegoro Diisi Pejabat Sementara
  • Bupati Bojonegoro Sosialisasikan Program Kampung KB di Kasiman
  • Dua Unit Rumah Milik Warga Soko Tuban, Ludes Terbakar
  • Polres Bersama DLH Bojonegoro Bersih-Bersih Sampah di Bantaran Sungai Bengawan Solo
  • Jelang Pemilu, Polres Blora Gelar Simulasi Sispamkota
  • Bupati Bojonegoro Laksanakan Pembinaan Gerakan Koperasi Aktif di Kasiman
  • Diduga Serangan Jantung, Warga Ngraho Bojonegoro Ditemukan Meninggal Dunia di Emperan Toko
  • Kunjungan Kerja di Bojonegoro, Wagub Jatim  Susuri Aliran Sungai Bengawan Solo
  • Kunjungi SMK 5 Bojonegoro, Wagub Jatim Sosialisasi Millenial Job Center
  • Wakil Gubernur Jawa Timur Lakukan Kunjungan Kerja Pertama di Bojonegoro
  • Menjadi Pelajar Cerdas dan Berkarakter dalam Penghargaan LCC MIPA Bojonegoro 2019

2 Juni, Hari Lahir Bung Tan

Belajar dari Sosok Revolusioner Datuk Ibrahim Tan Malaka

Oleh Siti Ainur Rodhiyah

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa 2 Juni merupakan tanggal kelahiran seorang tokoh revolusioner penggerak kaum buruh yakni Tan Malaka. Penulis lebih tertarik mengenalnya dengan sebutan  Bung Tan sebagai tokoh pencetus gagasan republik.

Sedikit mengulas tentang Bung Tan. Dirinya dilahirkan di sebuah Desa Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, Sumatra Utara. Kehidupannya tidak jauh dari budaya Minangkabau. Ia dijuluki "Datuk" pada awal namanya sebab dianggap mempunyai kelebihan dari anggota suku.

Bung Tan juga disebut oleh Moh Yamin sebagai "Bapak Republik". Beliau dikatakan sebagai orang yang pertama kali berjuang menentang antikolonialisme di Hindia Belanda, bahkan sebelum Soekarno dan Hatta. Beliau juga menjadi orang pertama yang mencetuskan konsep tentang "Negara Indonesia" dalam bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925). Buku inilah yang menginspirasi Soekarno, Hatta, Sjahrir, dkk untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari barisan yang lain.

Sementara itu, tokoh besar yang terlupakan ini berjuang "sendirian" untuk memerdekakan Indonesia dari mulai menulis buku, membentuk kesatuan massa, berbicara dalam kongres internasional, ikut bertempur di lapangan melawan Belanda secara langsung, sampai akhirnya harus keluar-masuk penjara berkali-kali, diburu oleh interpol, dan kejar-kejaran sama polisi internasional sebab keberadaannya dianggap mengancam pemerintah Belanda.

Jika kita membahas pemikiran Bung Tan, maka tidak terlepas dari sejarah panjang yang dapat kita temui dari buku Materialisme, Dialektik, dan Logika (Madilog), Aksi Massa, serta berbagai brosur kumpulan tulisan ketika diasingkan di penjara hingga keluar dan kembali ke negara sendiri.

Salah satu buku karyanya Madilog, sebagai jawaban atas kegelisahan Bung Tan saat mengamati  dan melihat keadaan bangsanya yang masih memiliki pandangan mistika. Mempercayai hal mistik dan tahayul, dalam setiap tingkah laku. Madilog menawarkan konsep gagasan jauh lebih maju guna merekonstruksi pemikiran lama.

Buku-buku  orde lama sangat sulit ditemui sebab keberadaannya dianggap subversif dan membahayakan posisi kaum penjajah. Namun, hari ini kita dapat menemui buku-buku tersebut cukup mudah. Bahkan, para organisasi pemuda yang notabenenya sebagai aktivis pergerakan juga sepatutnya membaca buku ini, sebab pemikiran-pemikiran Tan dianggap masih sangat relevan dengan keadaan hari ini.

Perjuangan beliau untuk negeri kita ini malah ternyata malah "dibalas oleh Indonesia" dengan timah panas. Ya, beliau ditembak mati oleh tentara Republik yang didirikannya sendiri (Tentara Indonesia) di Kediri 1949.

Penulis ingin sedikit membawa pembaca pada sebuah pernyataan asik oleh Bung Tan yakni "Dalam masa revolusi senjata yang bisa kita gunakan adalah otak, mulut dan pena".

Mengapa demikian?.

Hemat penulis akan mencoba mengejewantahkan pernyataan ini, sebab memiliki cita-cita besar menggugah ghiroh perjuangan pemuda dalam melaksanakan tanggung jawab dan tugas sebagai bangsa Indonesia.

Pertama : revolusi bisa dicapai dengan otak. Manusia memiliki otak sebagai alat untuk mengontrol segala sesuatu mengenai tindakan yang akan dilakukan.

Kedua : mulut. Revolusi dapat dicapai dengan mulut. Ketika manusia memandang setiap hal materi, matter (benda), sebuah kejadian dan peristiwa tentu akan bereaksi terhadap anggota tubuh lainnya. Tentu berbagai tanggapan serta argumentasi mengenai suatu permasalahan akan muncul dalam pikiran seseorang. Pada saat itu juga inisiatif untuk menyampaikan pendapat dan pesan seseorang dapat disampaikan lewat bicara, melalui mulut. Melalui mulut jalan revolusi dapat tercipta berdasarkan pesan-pesan yang terkandung dalam setiap pembicaraan sehingga dapat menciptakan gagasan baru yang efektif, variatif, dan selektif menjadi hal berkualitas guna meningkatkan intelektualitas berpikir manusia.

Ketiga : pena. Pada saat yang sama segenap sejarah dapat diketahui seseorang lewat sebuah tulisan. Tanpa tulisan, sangat tidak mungkin catatan-catatan pendahulu dipahami dan dijadikan landasan berpikir serta bergerak para pemuda. Hal ini kemudian yang menjadi semangat revolusioner Tan bergerak dalam bidang literasi. Literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis dan dalam berbagai bidang hal lainnya. Namun, pena disini sangat erat kaitannya dengan menulis. Bahkan penulis pernah mendengar kutipan dari salah satu tokoh Islam yakni Ali Bin Abi Thalib yang menyatakan:

"Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah".

Hemat penulis ingin mengatakan juga bahwa kita tidak pernah bisa memilih dari rahim siapa kita dilahirkan. Namun, kita dapat memilih masa depan yang kita inginkan.

Meskipun kita dilahirkan dari keluarga dengan keadaan ekonomi menengah ke bawah, anak kaum buruh, atau bahkan pengais rejeki lewat mengumpulkan barang-barang yang tak terpakai. Hal itu bukan alasan bagi kita merasakan malu dan tidak mampu mencapai kehidupan layak.

Bagi penulis, keadaan layak hanya bisa dicapai dengan usaha diri menjadi lebih baik. Kita akan merdeka jika mampu menciptakan perubahan pada diri, lewat pola pikir yang kritis, serta dinamis.

Begitupun sebaliknya, suatu hal tidak mungkin tercapai jika diri ini bermalas-malasan, menikmati suguhan materi milik keluarga kita, apalagi sering membanggakannya.

Hal ini selaras dengan pesan Allah Swt bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum yang berada dalam kenikmatan dan kesejahteraan, sehingga mereka mengubahnya sendiri. Juga tidak mengubah suatu kaum yang hina dan rendah, kecuali mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Yaitu dengan menjalankan sebab-sebab yang dapat mengantarnya kepada kemulian dan kejayaan.

Inilah yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS Ar-Ra’d 11].

Mari saling refleksi diri, merekonstruksi pemikiran guna meraih kemerdekaan pikiran.

Selamat melaksanakan ibadah puasa. Selamat melaksanakan ibadah literasi. (*/kik)

*Penulis adalah Ketua Komisariat pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sunan Giri Bojonegoro.

Berita Terkait

Videotorial

Festival Banyu Urip 2018, Destinasi Wisata Hiburan di Bojonegoro

Festival Banyu Urip 2018, Destinasi Wisata Hiburan di Bojonegoro

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Ribuan warga memadati jalan-jalan, warung-warung dan lapangan sepakbola Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro saat digelar perhelatan ...

Teras

Gantung Diri, Tanggung Jawab Siapa?

Gantung Diri, Tanggung Jawab Siapa?

Kejadian bunuh diri atau gantung diri di wilayah Kabupaten Bojonegoro selama tahun 2018, menunjukkan angka yang relatif cukup tinggi. Lantas ...

Opini

Lukman Wafi: Saya Mengundurkan Diri Sebagai Ketua KONI Bojonegoro

Lukman Wafi: Saya Mengundurkan Diri Sebagai Ketua KONI Bojonegoro

"Dengan ini saya Lukman Wafi, menyatakan mengundurkan diri sebagai ketua KONI Kabupaten Bojonegoro, periode 2015 - 2019." PERTAMA, Begitu saya ...

Quote

Peduli

Peduli

Peduli memiliki arti suatu sikap keberpihakan untuk melibatkan diri dalam persoalan keadaan, situasi atau kondisi di sekitar. Manusia yang memiliki ...

Sosok

Sari Koeswoyo, Antara Seorang Ibu dan Pelaku Seni

Sosok

Sari Koeswoyo, Antara Seorang Ibu dan Pelaku Seni

Oleh Muliyanto Tanggal 22 Desember, diperingati sebagai Hari Ibu. Hari di mana perempuan-perempuan Indonesia menyelenggarakan Kongres Perempuan Pertama pada 22 ...

Eksis

Sepasang Kakak-Adik di Blora Ciptakan Lampu Emergency Hemat Listrik

Sepasang Kakak-Adik di Blora Ciptakan Lampu Emergency Hemat Listrik

Oleh Priyo Spd Blora- Sering terjadinya listrik padam di wilayah Blora, membuat sepasang kakak-adik, warga Kelurahan Jetis Kecamatan Blora, menciptakan ...

Religi

Hukum Nikah Sirri

Hukum Nikah Sirri

*Oleh Drs H Sholikin Jamik SH MHes. Istilah nikah sirri atau nikah yang dirahasiakan memang dikenal di kalangan para ulama, ...

Infotorial

Ibu Inspiratif, Mengubah “Limbah” Menjadi Berkah

Ibu Inspiratif, Mengubah “Limbah” Menjadi Berkah

Oleh Imam Nurcahyo Ngaisah namanya. Perempuan kelahiran 44 tahun lalu ini ibu rumah tangga biasa, layaknya perempuan desa di sekitarnya. ...

Berita Foto

Festival Perahu Hias, Bengawan Solo Bojonegoro

Festival Perahu Hias, Bengawan Solo Bojonegoro

Festival Perahu Hias merupakan rangkaian dari Festival Bengawan Bojonegoro 2018, digelar Minggu, 30 Desember 2018. Festival Bengawan Bojonegoro 2018, digelar ...

Feature

Budidaya Jamur Jenggel Jagung di Blora Terkendala Pemasaran

Budidaya Jamur Jenggel Jagung di Blora Terkendala Pemasaran

Blora- Usaha budidaya jamur janggel (bonggol) jagung yang dilakukan warga Dusun Mojo Kulon Desa Banjarejo Kecamatan Banjerejo Kabupaten Blora, Jawa ...

Resensi

Alice in Cheongdam Dong 2

Alice in Cheongdam Dong 2

Oleh Delfariza Amaliya Penulis : Ahn Jae Kyung Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas Tahun : 2014 Penerbit : Qanita, PT ...

Pelesir

Waduk Selo Parang di Blora Pikat Pengunjung Wisata

Waduk Selo Parang di Blora Pikat Pengunjung Wisata

Blora- Masyarakat Desa Tempel Lemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah memanfaatkan kawasan waduk Selo Parang menjadi tempat wisata baru ...

Hiburan

Barista Asal Mojokerto Juarai Latte Art Battle di Bojonegoro

Barista Asal Mojokerto Juarai Latte Art Battle di Bojonegoro

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Dalam partai final Latte Art Battle di KDS Toserba Bojonegoro yang digelar pada Sabtu (01/12/2018) ...

Statistik

Hari ini

4.078 kunjungan

6.340 halaman dibuka

146 pengunjung online

Bulan ini

163.342 kunjungan

265.496 halaman dibuka

Tahun ini

349.622 kunjungan

583.281 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 722.605

Indonesia: 10.683

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015