Pemuda Yang Tewas Ditembak di Pondok Pesantren di Tuban, Diduga Kuat Alami Gangguan Jiwa
Sabtu, 15 September 2018 19:00 WIBOleh Achmad Junaidi
Oleh Achmad Junaidi
Tuban - Pelaku penyerangan di Pondok Pesantren An-Nidhomiyah, Kelurahan Sidorejo Kecamatan Tuban berinisial AFD (30), warga Desa Labuhan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan, yang akhirnya tewas setelah ditembak oleh anggota polisi lantaran melawan saat akan ditangkap, diduga kuat mengalami gangguan jiwa.
Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nidhomiyah, Ahmad Musyafak kepada awak media ini Sabtu (15/09/2018) siang.
Diberitakan sebelumnya, pada Rabu (12/09/2018) malam, AFD (30) mengamuk dengan menggunakan senjata tajam (golok) dan menyerang para tamu serta santri yang ada di Pondok Pesantren An-Nidhomiyah. Pemuda tersebut akhirnya tewas di halaman pintu pondok, setelah ditembak oleh anggota Polres Tuban lantaran melawan saat akan ditangkap.
Baca: Mengamuk di Dalam Pondok, Pemuda di Tuban Tewas Ditembak Polisi
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nidhomiyah, Ahmad Musyafak mengungkapkan, bahwa pelaku pernah menjadi santri di pondoknya sekitar tahun 2013 lalu. Selanjutnya pelaku pamit keluar untuk mencari pekerjaan dan setahun kemudian pelaku kembali ke pondoknya untuk melamar pekerjaan sebagai cleaning service atau petugas kebersihan.
“Iya, pelaku penah jadi santri disini, lalu pamit cari kerja, setahun kemudian dia kembali untuk melamar kerja sebagai tukang bersih-bersih,” ungkap Gus Mamak.
Pria yang akrab di sapa Gus Mamak itu menerangkan, semenjak tingkah laku pelaku mulai aneh, seperti mendadak teriak-teriak dan tiba-tiba memukul teman sesama santri saat sedang tidur, pihak pesantren langsung mengambil sikap, dengan memberhentikan pelaku dari pekerjaannya dan selanjutnya memulangkan pelaku.
“Pelaku terpaksa kita pulangkan, karena bertingkah laku aneh dan sulit mengontrol jiwanya. Akhirnya kami pasrahkah kepada keluarganya,” lanjut Gus Mamak
Dua hari setelah dipulangkan, pelaku kembali ke pondok pesantren dan mengamuk dengan menggunakan senjata tajjam (pisau dan golok), serta melakukan penyerangan terhadap siapa saja yang dijumpainya, termasuk para tamu pondok dan bahkan hampir melukai kiai yang telah mendidiknya.
“Dia ngamuk bawa golok dan melukai Nurhaji, tamu pondok, hingga mengalami luka robek di paha dan harus kita larikan ke rumah sakit,” paparnya.
Gus Mamak juga menerangkan, bahwa kesigapan pihak kepolisian yang dengan cepat bergerak menuju lokasi kejadianlah yang menyelamatkan para santri dan pengasuh pondok, karena setelah mendapatkan laporan, dalam hitungan menit petugas sudah sampai di pesantren.
“Terima kasih banyak kepada Pak Kapolres, jika polisi tidak segera datang, mungkin akan ada korban lain,” tutur Gus Mamak.
Selanjutnya Gus Mamak juga menyatakan turut berduka cita atas meninggalnya AFD, yang dengan terpaksa pihak kepolisian harus melakukan penembakan karena pelaku melakukan tindakan yang mengancam dan membahayakan jiwa orang lain.
“Saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya anak asuh saya, semua atas kehendak Allah dan semoga amal ibadahnya diterima disisinya,” harapnya. (jon/imm)































.md.jpg)






