Harga Kebutuhan Pokok Melonjak Saat Ramadan, Inflasi Jawa Timur Sentuh Angka 0,39 Persen
Jumat, 03 April 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur - Momentum bulan Ramadan tahun ini berdampak pada kenaikan harga berbagai komoditas di Jawa Timur. Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat adanya inflasi sebesar 0,39 persen secara bulanan pada Maret 2026, yang dipicu oleh naiknya harga pangan serta sektor energi.
Berdasarkan data yang dirilis, Indeks Harga Konsumen menunjukkan pergerakan naik dari angka 107,43 pada periode yang sama tahun lalu menjadi 111,50 di Maret 2026.
Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan bahwa fenomena ini bisa dibilang merupakan siklus tahunan yang kerap berulang.
"Secara historis, Jawa Timur memang kerap mengalami inflasi saat Ramadan dan Idul Fitri, terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau," ujar Herum Fajarwati, Kamis (02/04/2026) kemarin.
Selain faktor musiman, kondisi alam juga memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas harga di pasar. Herum menjelaskan bahwa curah hujan yang terpantau dalam kategori menengah hingga tinggi sepanjang Maret 2026 telah mengganggu proses produksi dan menurunkan kualitas hasil panen, yang pada akhirnya menghambat jalur distribusi pangan.
Beberapa komoditas protein hewani menjadi penyumbang utama kenaikan harga, seperti daging ayam ras yang mengalami inflasi 4,66 persen dan daging sapi sebesar 4,87 persen. Tak hanya itu, komoditas bensin juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,84 persen. Lonjakan paling tajam justru terlihat pada produk hortikultura, di mana harga tomat meroket hingga 18,16 persen dan cabai merah naik 16,12 persen. Bahan pokok lain seperti telur ayam ras, minyak goreng, serta berbagai jenis ikan juga ikut mengalami penyesuaian harga.
Jika dilihat secara tahunan, tingkat inflasi di Jawa Timur menyentuh angka 3,79 persen. Dari sebelas kabupaten dan kota yang menjadi sampel pemantauan BPS, seluruhnya melaporkan adanya kenaikan harga. Kabupaten Gresik menduduki urutan tertinggi dengan inflasi mencapai 0,98 persen, diikuti Sumenep sebesar 0,89 persen, serta Bojonegoro dan Jember yang berada di angka 0,65 persen. Sementara itu, Kota Surabaya mencatatkan angka inflasi terendah di level 0,13 persen.
Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan inflasi di wilayah Jawa Timur masih sangat dipengaruhi oleh pola musiman serta dinamika pasokan barang yang sangat bergantung pada situasi cuaca di lapangan.












































.md.jpg)






