Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme Lakukan Penelitian di Tuban
Jumat, 12 Oktober 2018 20:30 WIBOleh Achmad Junaidi
Oleh Achmad Junaidi
Tuban - Tim Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme (CTRS) Mabes Polri, bersama Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) bersama Polres Tuban, pada Jumat (12/10/2018), bertempat di sebuah rumah Makan di Jalan Basuki Rahmat Tuban, menggelar sosialisasi dan penelitian yang mengambil tema “Keterlibatan Perempuan Dalam Aksi Terorisme di Indonesia.”
Acara yang di buka oleh Kabag Sumda Polres Tuban, Kompol Masduki SH, mewakili Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono SH SIK MSi, juga di hadiri Ketua Tim Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme CTRS STIK-PTIK Kombes Pol JA Timisela beserta rombongan, para toloh agama Kabupaten Tuban, dosen dan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Tuban dan puluhan warga dari Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban.

Dalam sambutanya Kabag Sumda Polres Tuban, Kompol Masduki mengucapkan terima kasih atas kunjungan Ketua Tim beserta rombongan dari Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme CTRS STIK-PTIK ke Tuban.
“Selamat datang dan terima kasih telah berkenan melakukan sosialisasi dan penelitian di Kabupaten Tuban,” tutur Kompol Masduki.

Sementara itu Kombes Pol JA Timisela, mengatakan maksud dan tujuan kegiatan tersebut sebagai kajian ilmiah untuk mendapatkan ilmu yang nantinya akan di berikan kepada para peserta didik di STIK-PTIK Polri.
“Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme ini baru di bentuk saat dies natalies pada Juli 2018 lalu, sehingga kita langsung melakukan kajian serta observasi di berbagai lapisan masyarakat,” terang Kombes JA Timisela.
Banyaknya kasus terorisme yang ada di Indonesia serta minimnya pusat studi, akhirnya dibentuklah pusat studi tersebut, yang berdasarkan saran dari Kapolri, lalu ditindaklanjuti dengan penelitian yang di lakukan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk wilayah hukum Polres Tuban.
“Daerah yang kami pilih adalah yang wilayah yang pernah terjadi kasus terorisme, termasuk Tuban,” ungkap Kombes JA Timisela.
Kemunculan aksi terorisme yang terjadi di Surabaya pada bulan Mei 2018 lalu dengan melibatkan seorang perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri, menjadi fenomena baru, sehingga perlu dilakukan kajian dan penelitian lebih mendalam.
“Makanya perlu adanya studi penelitian ini, nantinya akan di kaji secara akademis, selanjutnya ilmu yang di dapat dari penelitian tersebut akan terapkan kepada perwira yang bersekolah di STIK,” papar Kombes Kombes JA Timisela. (jun/imm)






































