Pentingnya Edukasi Seksual Sejak Dini Jadi, Lindungi Remaja dari Risiko Digital
Minggu, 15 Februari 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Di tengah kepungan informasi digital yang tanpa batas, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan batasan pribadi kini menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda. Edukasi seksual tidak lagi dipandang sebagai hal tabu, melainkan sebagai instrumen perlindungan diri dari berbagai ancaman sosial.
Hal itu jadi topik pembahasan utama dalam Talkshow yang digelar Pemkab Bojonegoro di Radio Malowopati FM pada Jumat (13/02/2026) lalu. Dua narasumber terpercaya mengupas topik itu secara komprehensif, yaitu Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr. Lucky Imroah dan Psikolog dari RS Aisyiyah Bojonegoro, Hayyin Mubarok.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr. Lucky Imroah, menegaskan bahwa edukasi seksual komprehensif sangat penting dimulai di lingkup keluarga. Edukasi yang tepat sangat penting sekali karena bertujuan memberikan tanggung jawab penuh kepada remaja atas tubuh mereka sendiri. Menurutnya, pemahaman yang benar adalah fondasi utama untuk mencegah perilaku berisiko.
"Edukasi seksual bukan mengajarkan hal negatif. Ini adalah cara agar anak dan remaja memiliki pengetahuan yang ilmiah dan benar tentang kesehatan mereka, sehingga tidak tersesat oleh informasi di dunia maya," ujar dr. Lucky.
Ia menambahkan, edukasi ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari menjaga kebersihan diri, menghargai tubuh, hingga mengenali batasan privasi. Dengan pemahaman ini, remaja diharapkan mampu mengambil keputusan yang aman dan terhindar dari risiko pernikahan dini maupun penyakit menular seksual.
Senada dengan hal tersebut, Psikolog dari RS Aisyiyah Bojonegoro, Hayyin Mubarok, menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai filter informasi pertama. Ia menilai, "ruang kosong" komunikasi antara anak dan orang tua sering kali menjadi celah masuknya pengaruh negatif dari luar.
"Anak yang merasa didengar dan dihargai di rumah akan memiliki kepercayaan diri untuk bertanya kepada orang tuanya. Inilah kunci agar mereka tidak mencari jawaban dari sumber yang salah di internet," jelas Hayyin.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberanian anak untuk berkata "tidak" pada hal-hal yang melanggar batasan pribadi adalah hasil dari pola asuh yang menanamkan nilai tanggung jawab dan penghormatan diri.
Melalui pendekatan yang komprehensif, diharapkan para remaja di Bojonegoro tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan fisik. Pesan utamanya jelas: masa depan yang cerah hanya bisa diraih jika masa remaja diisi dengan pemahaman diri yang positif, bukan dengan keraguan akibat minimnya edukasi.(red/toh)































.md.jpg)






