Menelusuri Jejak Tembakau di Nusantara, dari Tradisi Klobot hingga Era Industrialisasi
Rabu, 28 Januari 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Industri hasil tembakau di Indonesia kini tengah menjadi sorotan seiring dengan wacana pemerintah untuk melegalkan rokok ilegal melalui penambahan layer tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT). Namun, jauh sebelum hiruk-pikuk regulasi cukai modern ini muncul, tembakau telah memiliki sejarah panjang yang mengakar kuat di tanah air, mulai dari cara konsumsi tradisional hingga bertransformasi menjadi industri raksasa.
Merujuk pada jurnal Südostasienwissenschaften dalam artikel bertajuk “Tobacco and Kretek: Indonesian Drugs in Historical Change”, perjalanan tembakau di Asia bermula saat bangsa Spanyol membawanya dari Meksiko ke Filipina pada tahun 1575. Tak butuh waktu lama bagi tanaman ini untuk sampai ke Nusantara. Pada tahun 1601, tembakau mulai diperkenalkan di Pulau Jawa.
Pada pertengahan abad ke-17, masyarakat Jawa mulai mengembangkan cara menikmati tembakau melalui pipa serta rokok tradisional yang dikenal dengan nama klobot atau dalam bahasa Belanda disebut strootje. Selain dibakar, tembakau kala itu juga menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi "nginang" atau mengunyah buah pinang dan sirih, baik oleh kaum pria maupun wanita.
Perubahan gaya hidup mulai terlihat pada tahun 1845 saat rokok modern ala dunia barat yang dibalut kertas masuk ke Batavia. Menariknya, pada masa itu rokok kertas belum diproduksi secara lokal, melainkan didatangkan melalui jalur impor.
Era industrialisasi rokok di Indonesia baru benar-benar dimulai pada tahun 1924. British American Tobacco (BAT) tercatat sebagai perusahaan rokok pertama yang mendirikan pabrik di Indonesia, tepatnya di Cirebon, Jawa Barat, yang kemudian diikuti ekspansi ke Semarang, Jawa Tengah.
Kehadiran pabrik-pabrik ini sempat menggeser popularitas klobot. Namun, klobot berhasil melakukan penetrasi pasar kembali atau rebound setelah adanya inovasi pencampuran tembakau dengan cengkeh. Meski praktik pencampuran ini disinyalir sudah ada sejak abad ke-17, momentum kejayaan atau booming rokok kretek ini baru benar-benar terjadi pada memasuki abad ke-20.
Kini, dengan sejarah panjang tersebut, tembakau tetap menjadi komoditas yang memiliki daya tarik ekonomi tinggi sekaligus menyimpan kompleksitas regulasi yang terus berkembang hingga saat ini.





















.sm.jpg)







.md.jpg)






