Mengenal Food Noise Gangguan Pikiran yang Menjadi Musuh Utama Pejuang Diet
Minggu, 10 Mei 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Fenomena pikiran yang terus-menerus tertuju pada makanan meski perut sudah merasa kenyang kini mulai mendapat perhatian medis secara serius. Kondisi yang dikenal dengan istilah food noise ini didefinisikan sebagai pikiran tentang makanan yang tidak diinginkan dan bersifat menyusahkan, yang berpotensi memicu masalah sosial, mental, hingga fisik bagi seseorang. Merujuk pada laporan kesehatan tahun 2025, food noise sering kali membuat seseorang terus memikirkan menu makan selanjutnya meskipun aktivitas makan baru saja selesai dilakukan.
Dokter spesialis gizi klinik, dr Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, Subsp.KM, SpKKLP, AIFO-K menjelaskan bahwa gangguan ini umumnya menjadi rintangan terbesar bagi individu dengan obesitas yang sedang berupaya menjalankan program diet. Menurutnya, kesulitan yang dialami pasien bukan semata-mata karena kurangnya disiplin, melainkan adanya faktor biologis tubuh yang cukup rumit. Beliau menekankan pentingnya memahami kondisi ini agar masyarakat tidak lagi memandang obesitas hanya sebagai kegagalan pribadi seseorang.
"Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks. Memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi," ujar dr Iflan di Kawasan PIK 2, Kabupaten Tangerang, Jumat (8/5/2026).
Dokter yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) ini memaparkan bahwa food noise merupakan imbas dari dorongan dopamin di dalam otak. Faktor lingkungan seperti paparan visual menu makanan di layar ponsel hingga aroma masakan di sekitar menjadi pemicu utama yang memperparah keinginan untuk makan meskipun tubuh sudah mendapatkan asupan yang cukup.
"Nah ini yang harus kita kendalikan, namanya dopamin. Ini yang harus kita turunkan dopaminnya, kita kendalikan supaya food noise itu tidak mengganggu kehidupan sehari-hari," katanya. Lebih lanjut, ia juga menyoroti bagaimana strategi pemasaran kuliner sering kali memanfaatkan indra penciuman untuk memancing rasa lapar buatan. "Lagi penciuman, aroma makanan. Aduh (itu makin memperparah), itu pintarnya pedagang," katanya.
Sebagai solusi medis untuk meredam kebisingan pikiran terhadap makanan ini, terdapat inovasi berupa GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Teknologi medis ini bekerja dengan cara membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang langsung pada pusat pengaturan nafsu makan di otak. Melalui jalur biologis tersebut, inovasi ini diklaim mampu memperbaiki kontrol makan pasien dengan cara menurunkan rasa lapar serta meningkatkan rasa kenyang secara lebih stabil.
Ketersediaan inovasi medis ini diharapkan dapat membantu para pejuang diet dalam mengatasi hambatan biologis yang selama ini sulit dikendalikan hanya dengan kekuatan tekad semata. Dengan regulasi nafsu makan yang lebih baik, pengelolaan berat badan bagi penderita obesitas dapat dilakukan dengan lebih efektif dan terukur.(red/toh)





































