Hubungan Golongan Darah dengan Harapan Hidup, Tipe O Diprediksi Paling Panjang Umur
Selasa, 16 Juni 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Rahasia umur panjang seseorang ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan dan olahraga, bisa jadi sudah tertanam di dalam kode genetik aliran darah mereka. Beberapa penelitian medis terbaru mengungkap kaitan mengejutkan antara golongan darah dengan tingkat ketahanan tubuh melawan penyakit kronis.
Berdasarkan data dari buku The Answer is in Your Bloodtype karya Dr Steven M Weissberg dan Joseph Christiano, terdapat perbedaan angka harapan hidup yang cukup kontras pada setiap golongan darah. Dalam perlombaan usia ini, golongan darah O mutlak memimpin di posisi pertama yang diprediksi panjang umur dengan rata-rata usia mencapai 87 tahun. Angka ini terpaut jauh dengan golongan darah B yang rata-rata usianya 77 tahun, AB yaitu 70 tahun, dan golongan darah A yang berada di posisi buncit dengan rata-rata usia hidup 62 tahun.
Para peneliti medis pun menguak alasan di balik golongan darah O diprediksi memiliki umur yang jauh lebih panjang. Ada dua alasan utama yang mendasarinya, yakni terkait sistem antibodi alami dan risiko penggumpalan darah.
Alasan pertama, golongan darah O memiliki sistem antibodi alami yang lebih agresif dalam menetralisir virus. Identifikasi golongan darah ditentukan oleh keberadaan antigen A dan B di permukaan sel darah merah. Antigen tersebut ditemukan pada golongan darah A, B, dan AB. Sementara golongan darah O dinyatakan bersih dari antigen permukaan. Sebagai gantinya, serum darah tipe O secara alami dipersenjatai dengan antibodi anti-A dan anti-B yang sangat kaya. Ketika ada virus atau agen infeksius yang mencoba menyerang tubuh, kombinasi antibodi agresif ini mampu mendeteksi dan menetralisirnya jauh lebih awal sebelum virus sempat merusak sel tubuh.
Alasan kedua adalah risiko penggumpalan darah yang jauh lebih rendah. Alasan medis mengapa golongan darah A rentan berumur lebih pendek adalah karena kecenderungan kekentalan darah mereka yang tinggi. Kondisi ini memicu penyumbatan pembuluh darah atau aterosklerosis. Sebaliknya, pemilik golongan darah O dilengkapi dengan mekanisme pembekuan darah yang jauh lebih seimbang dan efisien. Efeknya, risiko mereka terkena serangan jantung, stroke, dan penyakit kardiovaskular lainnya menjadi jauh lebih rendah karena beban kerja sistem peredaran darahnya cenderung lebih ringan.
Selain itu, golongan darah O membuat sistem kekebalan tubuh yang jauh lebih optimal, terutama saat muncul epidemi besar. Ketangguhan ini dibuktikan oleh beberapa studi internasional yang berskala besar. Riset NEJM yang dipublikasikan pada Juni 2020 melakukan penelitian pada populasi di Italia dan Spanyol. Hasilnya, orang dengan golongan darah O menunjukkan efek proteksi klinis yang paling kuat dibandingkan golongan darah lainnya.
Studi di Denmark dalam jurnal Blood Advances juga melakukan analisis data terhadap 473 ribu orang. Para ahli menemukan bahwa orang dengan tipe darah O yang terinfeksi hanya menyentuh angka 38,4 persen, berbanding terbalik dengan tipe A yang mencapai 44,4 persen.
Terakhir, data dari rawat inap di Kanada juga membuktikan keistimewaan dari pasien dengan golongan darah O. Saat terkena infeksi parah, pasien tipe O terbukti lebih jarang membutuhkan alat bantu napas atau ventilator, yakni sebanyak 61 persen dibanding pasien tipe A dan AB yang melonjak hingga 84 persen. Menariknya lagi, masa rawat inap pasien golongan darah O di rumah sakit jauh lebih singkat, yakni rata-rata hanya 9 hari saja sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.








.sm.jpg)




.sm.jpg)








.sm.jpg)














