News Ticker
  • Limbah Kayu Jati Diubah Jadi Kerajinan Bernilai Tinggi
  • Sat Lantas Polres Blora Tindak 3.000 Lebih Pelanggaran Selama Operasi Zebra Candi 2018
  • Sikap
  • Pemerintah Tetapkan Libur Nasional dan Cuti Bersama 2019 Sebanyak 20 Hari
  • Bojonegoro Jadi Sentra Pelayanan Kesehatan Jatim Barat, Mungkinkah?
  • Tutup TMMD di Bojonegoro, Ini Pesan Letkol Arh Redinal
  • Usai Ijab Kabul, Tahanan Asal Grabagan Tuban Ini Kembali ke Bui
  • 12 Mempelai Ikut Nikah Massal di Masjid Agung Tuban
  • Optimistis
  • HKN ke 54, Bupati Blora Minta Pelayanan Kesehatan Terus Ditingkatkan
  • Kirab Hari Jadi Kabupaten Tuban Ke 725 untuk Melestarikan Budaya
  • Kirab Budaya Pemuda Tuban Bersatu Berlangsung Meriah
  • Jangan Lewatkan Pameran Bursa Kerja Bojonegoro 2018, 10 Ribu Lowongan Menanti
  • Kenangan
  • KPUD Tuban Sosialisasi Pemilu pada Penyandang Disabilitas
  • 163 Siswa SD/MI Ikuti Try Out Akbar di Rumah Belajar YKIB
  • Semarak, Ratusan Warga Berebut Gunungan Belimbing
  • Ditubruk Motor Seorang Anak di Kanor Bojonegoro Luka Berat
  • Tabrak Lari di Baureno Bojonegoro, Seorang Luka Berat, Seorang Lainnya Meninggal Dunia
  • Bupati Blora dan Pimpinan Dewan Sepakati KUA PPAS RAPBD 2019
Kiai Welas Asih yang Aktif Berorganisasi

Mengenal Almaghfurllah KH Muhammad Sholeh, Pendiri Pondok Pesantren At-Tanwir

Kiai Welas Asih yang Aktif Berorganisasi

Oleh Mujamil E Wahyudi

Sumberrejo – Kiai Haji Muhammad Sholeh adalah putra kedua dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan Syarqowi bin Syuro dan Kuning. Beliau dilahirkan pada 20 Februari 1902. Kesembilan bersaudara itu Ya’qub, Muhammad Sholeh, Siti khatimah, Syamuri, Khusnan, Thohirah, Muslih, Ummi Kultsum dan Mukri.

Sejak usia 10 tahun, beliau dan Syamuri diasuh pamannya, H Idris, adik dari Syarqowi (Bapak KH M Sholeh). Karena pada saat itu H Idris dan Istrinya, Mursinah, tidak mempunyai anak. Pada tahun 1914, KH M Sholeh belajar pada Kyai Umar yang pada waktu itu menjabat sebagai naib di Sumberrejo.

Tahun berikutnya 1915, beliau meneruskan belajarnya di Pondok Pesantren Kendal Dander yang diasuh Kyai Basyir dan Kyai Abu Dzarrin, selama 8 bulan.

Pada tahun 1916, beliau pindah ke Madrasatul ‘Ulum di Bojonegoro selama 4 tahun, di kawasan masjid besar. Di situ beliau diasuh Kyai Basyir Kendal yang waktu itu harus pindah ke Bojonegoro karena diangkat menjadi penghulu hakim oleh Pemerintah.

Di Madrasatul ‘Ulum KH M Sholeh belajar ilmu fiqih dengan mengkaji kitab, seperti Sulam Taufiq, Fathul Qorib dan Fathul Mu’in. Serta ilmu nahwu dengan mengkaji kitab, seperti Aj-jurumiyah hingga Alfiyah dan tidak ketinggalan pula ilmu Shorof dan lain-lain. Selama belajar di sana beliau setiap hari pulang pergi dengan naik kereta api. Dan beliau juga sempat belajar pada KH Kholil Bangkalan Madura.

Selanjutnya pada tahun 1921, beliau mondok di Maskumambang Dukun Gresik, di pesantren yang diasuh KH Faqih bin KH Abdul Jabbar. Pada tahun 1923, saat beliau berusia 21 tahun, beliau menunaikan haji yang pertama dan berencana mondok di Makkah selama 2 tahun. Namun, baru 8 bulan di Makkah ternyata ada hambatan.

Kota Makkah yang saat itu dipimpin oleh Syarif Husain, mendapat serangan dari Raja Saud. Akhirnya KH M Sholeh pun kembali pulang ke Jawa dan meneruskan mondok di Maskumambang Dukun Gresik hingga tahun 1927.

Pada pertengahan tahun 1924, beliau diambil menantu KH Faqih untuk dinikahkan dengan keponakannya sendiri, Rohimah binti KH Ali. Kemudian setelah menikah, di tahun 1927 beliau dan istrinya pulang ke Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai seorang anak yaitu Sahal Sholeh dan Anisah.

Pada tanggal 20 Januari 1934, istri KH M Sholeh, Nyai Rohimah wafat di Desa Talun dan di makamkan di Dusun Sedayu, Kabupaten Gresik. Saat itu anak keduanya Anisah baru berumur 16 bulan. Beberapa tahun setelah ditinggal wafat istrinya, KH M Sholeh menikah lagi dengan Mukhlisoh (janda KH Mahbub), ibu dari H Badawi Jombang.

Tahun 1976, KH M Sholeh menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya disertai Nyai Mukhlishoh. Namun, pernikahan kedua ini belum sampai dikaruniai anak karena Nyai Hj Mukhlishoh terkena sakit dan akhirnya wafat pada 18 Februari 1992, mendahului beliau KH M Sholeh. Namun tak lama kemudian pada 26 Juni 1992 beliau juga wafat.

Menurut HM Rafiq Sahal, cucu dari Almaghfurlah K.H. M. Sholeh, beliau adalah seorang pemimpin yang perlu diteladani, khususnya istiqomahnya dalam mendidik agama kepada santri dan masyarakat, beliau sosok seorang yang teguh pendiriannya serta bersifat welas asih.

Beliau menambahkan, dulu Mbah Sholeh (sapaan akrab K.H. M. Sholeh) sosok seorang yang aktif dalam berorganisasi, termasuk beliau pernah mewakili muktamar alim ulama di Jakarta. Beliau juga pernah mewakili beberapa perkembangan informasi siaran radio luar negeri, seperti ABC Australia, BBC London dan VOA Amerika.

Sementara itu, Ustad Harsono, murid dari KH Muhammad Sholeh, mengaku kagum dengan sosok Almaghfurlah K.H. M. Sholeh atau yang akrab dipanggil dengan Mbah Sholeh, terutama karena kesungguhan beliau dalam mengajarkan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Bersungguh-sungguh dalam menentang ajaran Wahabi. Juga bermujahadah (adu argumentasi) dengan orang-orang yang tidak sefaham.

“Dulu semasa Mbah Sholeh masih hidup, beliau pernah diajak untuk mengikuti perkumpulan KHI atau Kompilasi Hukum Islam di Jakarta, yang waktu itu Mbah Sholeh juga terlibat dalam terwujudnya KHI Indonesia,” tambah Ustad Harsono, Selasa (1/9).

Mbah Sholeh itu mungkin satu-satunya orang yang jika ditanya langsung ditulis. Dari tulisannya tersebut kemudian dikumpulkan menjadi kitab “Risalah Safiiyah”. Beliau juga tidak suka membedakan kepentingan dunia dan akhirat.

“Artinya tidak melarang kepentingan duniawi, tidak melarang orang punya jabatan, yang terpenting bisa diarahkan kepada akhirat. Itulah salah satu prinsip yang sampai saat ini masih beliau ingat,” terangnya. (yud/tap)

 

 

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Teras

Kesultanan Melaka dan Konstitusi Malaysia

Kesultanan Melaka dan Konstitusi Malaysia

Oleh Muhammad Roqib Kuliah tamu bersama Dr Norazlina binti Abdul Azis dari Faculty Law UITM Malaysia di Pascasarjana Ilmu Hukum ...

Opini

Generasi Muda dalam Jeratan Kapitalisme Liberal

Opini

Generasi Muda dalam Jeratan Kapitalisme Liberal

*Oleh Rizki Amelia Kurnia Dewi SIKom PEMUDA adalah tonggak perubahan bangsa. Di pundak-pundak merekalah masa depan bangsa digantungkan. Pemuda sejatinya ...

Quote

Sikap

Sikap

Oleh Dr Hj Sri Minarti, M.Pd.I Sikap dapat diartikan pikiran dan perasaan seseorang yang membentuk perilaku suka atau tidak suka, ...

Sosok

Eny Kojiro, Perempuan Asal Bojonegoro yang Geluti Seni Menghias Tumpeng

Eny Kojiro, Perempuan Asal Bojonegoro yang Geluti Seni Menghias Tumpeng

Oleh Muliyanto Bojonegoro - Lobak, Timun, Batang, Sawi, Wortel dan aneka buah serta sayur ternyata tak hanya difungsikan menjadi sayur ...

Eksis

Warga Kerek Tuban Raup Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Jamur Tiram

Warga Kerek Tuban Raup Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Jamur Tiram

Oleh Achmad Junaidi Tuban (Kerek) Salah satu warga Desa Tlogowaru Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban, Darmaun (39), sukses menjadi pembudidaya jamur ...

Religi

Hukum Nikah Sirri

Hukum Nikah Sirri

*Oleh Drs H Sholikin Jamik SH MHes. Istilah nikah sirri atau nikah yang dirahasiakan memang dikenal di kalangan para ulama, ...

Infotorial

Program Peningkatan Literasi Siswa

Program Peningkatan Literasi Siswa

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Universitas Bojonegoro (Unigoro) bekerjasama dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) gelar kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah ...

Berita Foto

Inilah Prosesi Kegiatan Menuju Grebeg Berkah Jonegaran, HJB ke 341

Berita Foto

Inilah Prosesi Kegiatan Menuju Grebeg Berkah Jonegaran, HJB ke 341

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 341 tahun 2018, telah dilaksanakan pada Jumat ...

Feature

Udek, Tradisi Unik Masyarakat Desa Turigede Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro

Udek, Tradisi Unik Masyarakat Desa Turigede Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro

Oleh Muliyanto Bojonegoro (Kepohbaru) - Lain ladang, lain belalang. lain lubuk, lain ikannya. barangkali ibarat pepatah itulah yang dilakukan masyarakat ...

Resensi

Alice in Cheongdam Dong 2

Alice in Cheongdam Dong 2

Oleh Delfariza Amaliya Penulis : Ahn Jae Kyung Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas Tahun : 2014 Penerbit : Qanita, PT ...

Pelesir

Bukit Kunci di Blora, Jadi Tempat Pemburu Sunrise

Bukit Kunci di Blora, Jadi Tempat Pemburu Sunrise

Oleh Priyo Spd Blora - Panorama indah matahari pagi (sunrise) dan pemandangan Gunung Lawu di pagi hari menjadikan salah suasana ...

Statistik

Hari ini

1.341 kunjungan

2.140 halaman dibuka

32 pengunjung online

Bulan ini

50.951 kunjungan

91.990 halaman dibuka

Tahun ini

1.180.551 kunjungan

2.077.868 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 627.390

Indonesia: 11.567

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015