Tembakau Kembali Jeblok, Pabrik Belum Datang Mengambil
Rabu, 14 Oktober 2015 17:00 WIBOleh Khoirul Anam
Oleh Khoirul Anam
Sugihwaras - Petani tembakau sempat senang pada awal bulan ini sebab tembakau mengalami kenaikan. Tapi itu tidak bertahan lama. Pasalnya, harga tembakau kembali jeblok di pertengahan bulan ini.
Hal itu dikeluhkan oleh para petani tembakau. Salah satunya petani di Desa Sitiaji, Kecamatan Sugihwaras, H. Fakih (37). Dia mengeluhkan merosotnya harga tembakau di pertengahan bulan ini. "Mayoritas warga sini adalah petani tembakau. Ada sekitar 300 hektar lahan yang ditanami tembakau di sini," terangnya.
"Memang kemarin pernah naik tetapi hanya di awal bulan Oktober saja," tambah H. Fakih saat ditemui BBC, sebutan BeritaBojonegoro.com.
Parahnya, H. Fakih mengaku, bahwa tembakau para petani di desa tersebut sudah beberapa hari ini tidak lagi diambil oleh pabrik. Sehingga tembakau panenan mereka harus menumpuk di rumah masing-masing.
Petani lain desa setempat, Munawaroh (30), menjelaskan bahwa harga tembakau di awal Oktober ini mengalami kenaikan setelah bulan sebelumnya jeblok. September lalu, terang Munawaroh, harga kering tembakau Jawa hanya Rp 11.000 per kilogramnya, dan di awal Oktober naik jadi Rp13.000 per kilogram.
Sedangkan untuk tembakau lain, seperti tembakau jenis BAT 45, juga mengalami kenaikan harga di awal Oktober, yakni Rp18.000 perkilogram. Saat itu, setiap harinya para petani tembakau menyetor 1-2 ton tembakau kering kering ke gudang PT Djarum. Namun saat ini, semenjak turunnya harga, pabrik belum datang mengambil. Munawaroh mengaku belum mengetahui apa penyebabnya. Sementara di pertengahan bulan Oktober ini, tembakau jenis BAT 45 tersebut turut merosot menjadi Rp 12.000 per kilogram.
"Entah apa penyebabnya. Tetapi paling tidak pemerintah bisa mencarikan solusi agar harga tembakau bisa setabil dan petani tembakau tidak gulung tikar karena harga yang tidak stabil," imbuh Munawaroh. (nam/moha)































.md.jpg)






