Sektor Pertanian Masih Menjadi Tumpuan Ekonomi di Bojonegoro
Sabtu, 28 Juli 2018 17:00 WIBOleh Muliyanto
Oleh Muliyanto
Bojonegoro - Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro menganggap sektor pertanian menjadi tumpuan perekonomian masyarakat di wilayah Bojonegoro meski setiap tahunnya luas lahan pertanian mengalami penyusutan.
Dari data di Dinas Pertanian menyebutkan, tahun 2017 ada sekitar 77 ribu hektar mengalami penyusutan sebesar 600 hektar lebih untuk industri migas serta 25.317 meter persegi untuk pengembangan perumahan.
"Memang jika dibandingkan dengan industri minyak dan gas bumi, pertanian masih cukup besar menampung tenaga kerja," kata Sekretaris Dinas Pertanian Bambang Sutopo, Sabtu (28/07/2018).
Pada sektor pertanian, tidak hanya padi saja yang menjadi produksi utama. Tapi juga jagung, bawang merah, kacang tanah, dan tembakau.
Diakui, tenaga kerja di sektor pertanian dari tahun ke tahun mulai berkurang namun bukan berarti tidak ada produktivitas.
"Untuk menangani masalah tenaga kerja yang mulai berkurang ya kami upayakan cara lain. Salah satunya memanfaatkan bantuan alat pertanian dari pemerintah pusat," ungkapnya.
Dengan bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) tersebut, maka petani tidak lagi membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yang banyak. Alsintan yang diberikan kepada petani di Bojonegoro diantaranya, hand traktor, transplanter, excavator, dan traktor.
"Ada juga meskin pemotong dan penanam padi otomatis yang sangat membantu petani saat ini," tukasnya.
Dia menyatakan, jumlah kelompok tani di 28 Kecamatan saat ini total mencapai 1.526. Sementara jumlah petani di masing-masing desa berbeda-beda tergantung luas lahan pertanian.
"Misalnya di Kecamatan Sukosewu saja, jumlah petani mencapai 11.000 orang," tukasnya.
Sementara perkembangan produksi pertanian tanaman padi, jumlah terus mengalami peningkatan. Yakni, tahun 2013 mencapai 802.528,20 ton, tahun 2014 sebesar 847.847 ton, tahun 2015 sebesar 907.837 ton, 2016 dan 2017 sebesar 1.050.072 ton. (mol/kik)































.md.jpg)






