Musim Kemarau Tahun Ini Diprediksi Hingga November
Senin, 24 September 2018 10:00 WIBOleh Priyo Spd
Oleh Priyo Spd
Blora- Musim kemarau yang yang hingga saat ini masih berlangsung telah mengakibatkan kekeringan di ratusan desa se-Kabupaten Blora ini tampaknya belum akan berakhir. Pasalnya musim kemarau di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur ini diprediksi baru akan berakhir di bulan November 2018.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Blora, Sri Rahayu,mengatakan bahwa hujan diperkirakan baru akan turun pada pekan kedua bulan November di sebagian wilayah Blora.
“Berdasarkan data yang kami terima dari Stasiun Klimatologi BMKG Semarang, musim hujan di Jawa Tengah akan dimulai pada awal Oktober di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan sekitarnya. Sedangkan Blora baru akan mulai hujan pada pertengahan November,” ucap Sri Rahayu Senin (24/09/2018).
Menurutnya diperkirakan hujan mulai turun pada minggu ke dua bulan November nanti akan turun di wilayah Todanan, Japah, Jati, Kradenan dan sebagian Randublatung. Sedangkan wilayah Blora yang lainnya baru akan memasuki musim hujan di akhir bulan November.
“Memang musim kemarau tahun ini lebih panjang daripada tahun lalu. Kita harus tetap melakukan penghematan air. Bantuan air bersih juga terus mengalir bukan hanya dari pemerintah saja, namun juga banyak dari perusahaan swasta, organisasi masyarakat dan lainnya,” lanjutnya.
Yayuk sapaan akrab Sri Rahayumengungkapkan bahwa pihak BPBD sudah mengajukan penambahan anggaran kepada pemerintah untuk penyaluran bantuan air bersih. Sehingga diharapkan dampak kekeringan di desa-desa bisa diminalisir.
"Bantuan air bersih terus kami lakukan agar kekeringan bisa di minimalisir " ujarnya.
Selain penghematan air, terkait kemarau yang masih panjang ini, pihaknya juga meminta kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Baik kebakaran lahan maupun rumah.
“Beberapa waktu terakhir kejadian kebakaran di musim kemarau sering terjadi disebabkan kecerobohan masyarakat dalam membuat perapian penghangat ternak atau istilah lokalnya bediang. Utamanya di desa-desa yang banyak memiliki ternak sapi. Hati-hati, apalagi air sedang sulit,” pungkasnya. (teg/kik)































.md.jpg)






