Hujan Belum Turun Warga di Blora Ambil Air di Belik
Senin, 08 Oktober 2018 15:00 WIBOleh Priyo Spd
Oleh Priyo Spd
Blora- Hingga memasuki bulan Oktober tahun ini, warga di Kabupaten Blora, diantaranya di Kecamatan Randublatung dan Kecamatan Jati, terus mengalami masalah klasik setiap tahunnya. Bagaimana tidak, sumur milik warga semuanya mengering. Dan untuk mendapatkan air bersih guna mencukupi kebutuhan dasar rumah tangga sehari-hari dan memberi minum ternak, mereka harus mengambil air dari belik (red, lubang bekas galian pasir) yang ada di dadar sungai yang sudah mengering.
Hal ini terjadi di Dukuh Ngrawut Desa Plosorejo Kecamatan Randublatung, warga terpaksa mengantre hingga berjam-jam, agar bisa mendapat 2 jerigen air bersih.
Suyanto (50) warga dukuh setempat mengatakan, sejak subuh dirinya sudah mulai melakukan aktivitas rutin mengambil air di belik. Dia mengaku, dalam sehari hanya mampu mengumpulkan 5 sampai 6 jerigen air, itupun harus antre berjam-jam lamanya.
"Khususnya selama kemarau ini, mas. Sudah 4 bulan lebih, puluhan warga saling bergantian menimba air," terangnya pada awak media ini, Senin (08/10/2018).
Menurutunya, droping air bersih yang pernah ada tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan mereka selama berbulan-bulan ini.
"Mau bagaimana lagi, mau tidak mau kita harus inisiatif mencari simber air sendiri, " tukas Yanto.

Pemandangan serupa juga terjadi di Dukub Jampi Desa Bekutuk Kecamatan Randublatung. Aktivitas warga mengantre air menjadi pemandangan yang cukup memprihatinkan.
Salah satu warga dukuh setempat, Minah, dirinya mengaku setiap hari selalu antre mengambl air di belik untuk mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari.
"Setiap tahun kami terus mengalami kekeringan seperti ini," ujarnya.
Sementara itu, Camat Randublatung melalui Kasi Trantib, Imam Suyono mengungkapkan, bahwa terdapat 7 desa di Kecamatan Randublatung yang disinyalir mengalami kesulutan air. Menurutnya, sudah diajukan permohonan bantuan air melalui dinas terkait dan sudah mendapatkan droping air bersih, namun memang sejauh ini bantuan tersebut masih dianggap kurang, mengingat musim kemarau tahun ini sangat panjang.
"Setidaknya sudah membantu menanggulangi dan meringankan beban masyarakat kita, " ujar Imam Suyono.
Imam menjelaskan, kondisi kekeringan juga terjadi di Kecamatan Jati. Di wilayah tersebut menurutnya kondisinya jauh lebih parah. Desa-desa di Kecamatan Jati juga sangat membutuhkan dropping air bersih.
"Tidak hanya di Randublatung saja, di Kecamatan Jati setiap musim kemarau juga mengalami kekeringan," terangnya. (teg/imm)































.md.jpg)






