Bengawan Solo Dangkal, Penyedotan Pasir Sepi
Kamis, 13 Agustus 2015 13:00 WIBOleh Khoirul Anam
Oleh Khoirul Anam
Kota – Selama musim kemarau ini kondisi Sungai Bengawan Solo menyusut drastis. Selain itu, dasar sungai terpanjang di Pulau Jawa itu juga mengalami pendangkalan. Karena itulah kegiatan penambangan pasir baik secara tradisional maupun yang memakai mesin mekanik saat ini banyak berkurang.
Kegiatan menambang pasir di dasar sungai yang memakai mesin penyedot dapat berdampak merusak lingkungan sekitar. Banyak bantaran Bengawan yang longsor dan ambrol. Tidak jarang pula daerah bantaran yang longsor itu mendekati permukiman warga.
Menurut Syafii, warga Desa Ledok Kulon, kegiatan tambang pasir saat musim kemarau di kawasan Desa Ledok Kulon kini sepi dibandingkan sebelumnya. “Aktivitas warga yang mengambil pasir secara manual maupun memakai mesin mekanik sudah banyak berkurang,” ujarnya pada BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, Kamis (13/08).
Menurutnya, kegiatan tambang pasir secara manual yakni mengambil pasir di daerah endapan lalu diangkat dengan cikrak atau bojok lalu ditaruh di lambung perahu memang tidak merusak ekosistem sungai. Sebab, antara pengambilan pasir dengan pemulihannya berlangsung seimbang. Akan tetapi, pengambilan pasir dengan mesin penyedot dapat merusak lingkungan karena pengambilan pasirnya terlalu cepat sementara pemulihannya berlangsung lambat.
Ia menuturkan, warga terutama yang tinggal di sekitar sungai memang mengeluhkan kondisi rusaknya daerah bantaran akibat kegiatan penambangan pasir memakai mesin penyedot tersebut. Selain itu, kegiatan penyedotan pasir memakai mesin itu juga menimbulkan suara bising pada siang hari.
Sementara itu, pihak kepolisian kini gencar melakukan operasi penertiban penambang pasir mekanik di sepanjang Sungai Bengawan Solo tersebut. Selain melanggar undang-undang, kegiatan menambang pasir dengan memakai mesin itu dapat merusak lingkungan sekitar sungai. (nam/kik)































.md.jpg)






