Kemenkes Temukan Risiko Kesehatan Tinggi di Berbagai Usia dari Hasil CKG 2025, Dorong Penguatan Layanan di 2026
Sabtu, 24 Januari 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Nasional – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 yang menjangkau sekitar 70 juta warga di seluruh Indonesia mengungkap berbagai masalah kesehatan serius yang masih mengintai masyarakat dari bayi hingga lansia. Temuan ini menjadi bahan evaluasi utama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menyempurnakan program serupa di tahun 2026, dengan penekanan lebih kuat pada tindak lanjut pengobatan dan perubahan gaya hidup.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa risiko gangguan kesehatan terdeteksi di setiap fase kehidupan. Pada bayi baru lahir, sekitar 6% memiliki berat badan rendah di bawah 2,5 kg, yang berpotensi memicu stunting serta gangguan tumbuh kembang jika tidak segera ditangani. Selain itu, ditemukan kasus kelainan bawaan seperti penyakit jantung kritis dan kekurangan hormon tiroid. “Jika kekurangan hormon tiroid tidak ditangani dalam satu bulan pertama, bayi berisiko mengalami retardasi mental seumur hidup,” tegas Maria. Pengobatan untuk kondisi ini sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan.
Pada balita dan anak usia prasekolah (1-6 tahun), karies gigi menyerang satu dari tiga anak (31%), berpotensi menyebabkan infeksi, demam, hingga hambatan belajar. Lebih dari 10 ribu balita juga tercatat mengalami berat badan kurang. Kemenkes mengimbau orang tua memberikan asupan protein hewani beragam seperti telur, ikan, dan daging, serta rutin memantau pertumbuhan melalui Posyandu.
Di kalangan remaja dan usia sekolah, satu dari lima memiliki tekanan darah di atas normal, sementara 7% mengalami kegemukan atau obesitas. Anemia masih tinggi, menimpa satu dari empat remaja, khususnya siswi kelas 7 dan 10. Masalah pendengaran juga muncul akibat penggunaan earphone berlebihan—disarankan maksimal satu jam per hari dengan volume terkendali.
Masuki usia dewasa, obesitas sentral dialami satu dari tiga orang, meningkatkan ancaman penyakit jantung. Data menunjukkan sekitar 7 juta orang dewasa memiliki tekanan darah tinggi, serta 100 ribu kasus diabetes atau prediabetes. Pada lansia, kondisi lebih mengkhawatirkan: 51% mengalami tekanan darah tinggi dan 58% bermasalah dengan kesehatan gigi yang bisa memicu infeksi berat.
Meski deteksi dini berhasil dilakukan melalui 10.250 puskesmas di 38 provinsi, tingkat kepatuhan pengobatan masih rendah. Hanya sekitar sepertiga penderita hipertensi yang rutin minum obat dan kontrol, sementara pengendalian gula darah pada pasien diabetes belum mencapai 10%.
“Kondisi ini menjadi fokus evaluasi kami untuk CKG 2026. Kami akan perkuat tata laksana, khususnya tindak lanjut hasil pemeriksaan dan edukasi perilaku hidup sehat,” ujar Maria.
Untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular ke depan, Kemenkes mendorong skrining sejak pra-nikah dan kehamilan, pembatasan gula-garam-lemak, aktivitas fisik rutin, serta pemeriksaan kesehatan tahunan. Target CKG 2026 ditingkatkan menjadi 136 juta jiwa, dengan harapan deteksi dini plus perawatan lanjutan dapat menekan beban penyakit kronis dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir


















.sm.jpg)











.md.jpg)






