Solusi Ekonomi dan Lingkungan Melalui Bank Sampah di Desa Sendangharjo Bojonegoro
Sabtu, 18 April 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Desa Sendangharjo di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, kini menjadi pusat perhatian melalui keberhasilan pengelolaan limbah yang inovatif. Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan atau BSMKH sukses mentransformasi sampah rumah tangga menjadi sumber energi serta alat pemenuhan kewajiban administratif warga.
Unit usaha yang mendapatkan pendampingan dari Pertamina EP Cepu Zona 12 ini telah melangkah lebih jauh dari sekadar pengumpulan limbah konvensional. Mereka menerapkan teknologi pirolisis untuk memproses sampah plastik jenis kresek yang selama ini sulit laku di pasaran. Melalui perangkat tersebut, limbah plastik diubah menjadi bahan bakar alternatif yang memiliki nilai guna tinggi bagi masyarakat.
Ujang Surya Abdillah selaku Ketua BSMKH menjelaskan bahwa pemilahan dilakukan secara mendalam. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual tinggi seperti kardus dan botol plastik tetap dijual ke pengepul. Namun, khusus untuk plastik bernilai rendah yang sering kali memenuhi tempat pembuangan, pihaknya memilih jalur konversi energi melalui faspirolisis.
"Untuk sampah anorganik yang layak jual seperti kardus dan botol mineral, tetap kita jual. Namun, untuk sampah plastik yang harganya menipis, kami ubah menjadi bahan bakar alternatif melalui faspirolisis," ujar ketua BSMKH Ujang Surya Abdillah, Jumat (17/04/2026).
Selain penanganan sampah plastik, limbah organik pun diolah secara produktif sebagai media budidaya larva maggot BSF. Hasil panen maggot ini kemudian didistribusikan kepada para peternak unggas dan pembudidaya ikan di sekitar wilayah Ngasem sebagai pakan alternatif berkualitas. Langkah ini secara langsung mendukung ketahanan sektor peternakan dan pertanian lokal melalui penyediaan pakan dan pupuk organik yang mandiri.
Salah satu inovasi yang paling dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat adalah program menabung sampah untuk pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan atau PBB. Sejak diinisiasi pada tahun 2016, sistem ini mewajibkan warga menyetor sampah secara rutin yang kemudian dikonversi menjadi saldo pajak tahunan. Petugas secara periodik berkeliling ke setiap lingkungan RT untuk menjemput dan menimbang sampah milik warga.
Keberhasilan gerakan ini juga tidak lepas dari peran aktif kader Masyarakat Sadar Lingkungan atau My Darling. Kelompok yang didominasi oleh kaum ibu ini menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi kepada warga mengenai pentingnya pemilahan sampah mulai dari dapur masing-masing.
Melalui sinergi antara teknologi, dukungan korporasi, dan kesadaran kolektif masyarakat, BSMKH membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi mampu memberikan dampak ganda. Selain mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan bersih, inisiatif ini juga terbukti mampu meringankan beban ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian ekosistem di wilayah Bojonegoro.
Editor: Mohamad Tohir






































