Siklus Banjir dan Kekeringan, Jangan Tunggu Bencana, DPRD Ingatkan Pemkab Soal Antisipasi Kekeringan
Minggu, 19 April 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Fenomena banjir saat musim penghujan serta kekeringan di musim kemarau masih menjadi siklus tahunan yang belum terselesaikan di Kabupaten Bojonegoro. Situasi ini memberi tekanan besar terhadap sektor pertanian dan berisiko memicu gagal panen apabila tidak ditangani dengan langkah yang tepat sejak awal.
Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Donny Bayu Setiawan, menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi kondisi tersebut. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak bersikap menunggu hingga dampak bencana muncul baru kemudian bertindak. Menurutnya, perencanaan ketahanan pangan harus menjadi prioritas, termasuk kejelasan alokasi anggaran dan penggunaannya.
Sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Donny juga menilai bahwa pendekatan yang dilakukan harus bersifat preventif, bukan sekadar respons setelah kejadian. Ia menegaskan bahwa langkah antisipatif jauh lebih efektif dibanding penanganan yang terlambat.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro, Zainal Fanani, mengungkapkan bahwa tantangan utama terletak pada dominasi lahan nonirigasi di wilayah tersebut. Ia menjelaskan bahwa hanya sekitar 41 persen lahan yang memiliki sistem irigasi, sedangkan sisanya masih bergantung pada curah hujan, sehingga rentan saat musim kering.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah daerah merancang pembangunan sumur bor di sejumlah kawasan pertanian sebagai sumber air alternatif. Program ini akan dibiayai melalui kombinasi anggaran dari pemerintah pusat dan daerah.
Di sisi lain, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 520/531/412.221/2026 tertanggal 16 Maret 2026. Dalam kebijakan tersebut, petani diarahkan untuk melakukan penghematan penggunaan air, menyesuaikan pola tanam, memprioritaskan komoditas palawija, serta memaksimalkan fungsi jaringan irigasi yang tersedia.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menekan dampak kekeringan sekaligus menjaga stabilitas produksi pertanian di Bojonegoro, terutama menghadapi potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi.(red/toh)
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mulyanto
Publisher: Mohamad Tohir






































