Penguatan Mental Bagi ODHIV Menuju Target Eliminasi 2030 di Bojonegoro
Minggu, 19 April 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Upaya membangun kepercayaan diri dan kesehatan jiwa bagi orang dengan HIV atau ODHIV terus digalakkan di Kabupaten Bojonegoro. Melalui Kelompok Dukungan Sebaya Lentera Sebaya, sebuah lokakarya khusus digelar di ruang Angling Dharma gedung Pemkab Bojonegoro pada Sabtu (18/04/2026) kemarin dengan mengusung misi transformasi dari kerentanan menuju ketangguhan dalam menghadapi masa depan.
Pertemuan tersebut mempertemukan komunitas ODHIV dari berbagai wilayah di Jawa Timur dengan jajaran lintas sektor, mulai dari dinas kesehatan, dinas sosial, hingga perwakilan rumah sakit daerah dan organisasi kemanusiaan. Kehadiran konselor profesional Niken Mahendra dalam sesi ini bertujuan memberikan pendalaman mengenai manajemen stres dan komunikasi bagi para peserta agar mampu mengelola beban psikologis yang sering kali muncul akibat kondisi kesehatan mereka.
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro yang diwakili oleh Sub Koordinator Penyakit Menular dan Tidak Menular, Paiman, mengungkapkan bahwa tantangan utama bagi penderita bukan sekadar masalah medis. Karena pengobatan virus ini bersifat jangka panjang dan memerlukan kedisiplinan tinggi, faktor psikososial dan mental menjadi kunci utama. Stigma negatif yang masih ada di tengah masyarakat sering kali berdampak pada kondisi kejiwaan penderita, sehingga dukungan dari keluarga dan penguatan dari dalam diri sendiri menjadi fondasi yang sangat krusial.
"KDS Lentera menginisiasi workshop kesehatan mental. Di Indonesia ada eliminasi HIV/AIDS 2030 target Three Zero," ujarnya.
Langkah ini juga sejalan dengan komitmen nasional Indonesia untuk mencapai target eliminasi HIV/AIDS pada tahun 2030, yang dikenal dengan istilah Three Zero. Target tersebut meliputi penghapusan kasus infeksi baru, penghapusan angka kematian akibat penyakit ini, serta yang paling utama adalah penghapusan diskriminasi maupun stigma terhadap penyintas. Dengan kesehatan mental yang terjaga, diharapkan para penderita memiliki kepatuhan yang lebih tinggi dalam menjalani prosedur pengobatan standar secara rutin.
Berdasarkan laporan terkini, Dinas Kesehatan mencatat terdapat 358 kasus yang terdeteksi sepanjang tahun 2025, sementara hingga April tahun ini telah ditemukan 31 kasus baru. Saat ini, seluruh fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas hingga sebelas rumah sakit di wilayah Bojonegoro telah disiagakan untuk melayani kebutuhan pengobatan masyarakat. Pemerintah menekankan bahwa kolaborasi antara birokrasi, masyarakat, dan lembaga non-pemerintah sangat dibutuhkan agar pelayanan dapat menjangkau seluruh lapisan.
"Harapannya, dari temuan dan narasumber kita Ibu Niken Mahendra menguatkan kesehatan mental sehingga patuh menjalani pengobatan, serta mau mengedukasi teman-teman ODHIV yang belum mengakses kesehatan. Ke depan, hidupnya semakin berkualitas. Mari bersama-sama menghilangkan stigma masyarakat mulai dari diri sendiri, keluarga hingga masyarakat," tandasnya.
Melalui pendampingan intensif ini, para peserta diajak untuk tidak hanya fokus pada pemulihan fisik, tetapi juga berani menjadi edukator bagi sesama rekan yang belum berani mengakses layanan kesehatan. Harapannya, kualitas hidup para penderita dapat terus meningkat seiring dengan hilangnya batasan-batasan sosial yang selama ini menghambat mereka untuk tetap produktif di masyarakat.
Editor: Mohamad Tohir






































