Waspada Jebakan Hidden Sugar, Zat Manis Tersembunyi dalam Kuliner Kekinian yang Memicu Obesitas
Jumat, 05 Juni 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Pola konsumsi pemanis yang tidak terkontrol tengah menjadi sorotan utama dalam industri kesehatan modern karena berdampak buruk bagi metabolisme tubuh. Salah satu pemicu utama melonjaknya angka obesitas dan timbulnya gangguan fungsi sekresi insulin pada generasi muda saat ini adalah ketidaktahuan publik mengenai keberadaan kandungan pemanis laten atau hidden sugar yang kerap terselip di dalam berbagai produk kuliner modern.
Sebagian besar masyarakat kekinian condong kurang cermat dalam memperhatikan asupan pemanis harian mereka karena zat tersebut tidak selalu tampak secara kasat mata. Bentuk zat sakarida ini sering kali disamarkan melalui beragam istilah teknis dalam tabel komposisi produk, sehingga mengecoh konsumen yang mengira bahwa produk yang mereka beli telah aman untuk dikonsumsi.
Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya pemahaman publik mengenai keabsahan label produk seperti pengurangan pemanis, kadar rendah kalori, atau klaim bebas pemanis buatan yang tertera pada kemasan komoditas pangan harian. Alhasil, zat karbohidrat sederhana ini tetap masuk ke dalam sistem pencernaan secara berlebih tanpa disadari dan merusak target pemenuhan kalori seimbang yang sedang dijalani oleh konsumen.
Guna mengatasi persoalan literasi gizi yang krusial tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan RI bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI beserta kalangan dunia usaha menyelenggarakan forum diskusi bertajuk Jebakan Hidden Sugar Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut pada Jumat (05/06/2026). Agenda edukatif ini dirancang khusus untuk meningkatkan sikap kritis masyarakat dalam membaca label informasi nilai gizi produk serta mendorong perubahan gaya hidup yang lebih protektif terhadap kesehatan organ dalam.
Melalui forum ilmiah tersebut, para pakar kesehatan mengupas tuntas formulasi pengaturan menu makanan harian yang ideal serta pemanfaatan bahan pangan dengan indeks glikemik rendah untuk mengontrol kestabilan sirkulasi darah. Publik juga diberikan pemahaman mengenai alternatif konsumsi produk nutrisi yang memanfaatkan senyawa serat larut seperti inulin serta pemanis fungsional jenis isomaltulosa yang mampu memberikan efek kenyang lebih lama tanpa memicu lonjakan glukosa.
Upaya preventif untuk menjaga kesehatan jangka panjang ini sejatinya tidak menuntut masyarakat untuk serta-merta menghentikan konsumsi seluruh kudapan favorit mereka secara total. Kunci utama yang ditawarkan oleh para ahli dalam diskusi ini adalah pemahaman yang utuh mengenai batas aman ambang batas harian serta kedisiplinan dalam melakukan aktivitas pembakaran energi secara berkala.
Sederet figur otoritas publik serta pakar gizi dijadwalkan hadir sebagai pembicara utama dalam forum ini, di antaranya Kepala BPOM Taruna Ikrar, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid, Health Communicator Kalbe Nutritionals dr Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, serta Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional Mufti Mubarok yang siap memberikan edukasi komprehensif bagi masyarakat luas.
Adanya kolaborasi edukatif lintas instansi ini diharapkan mampu memperluas wawasan publik mengenai bahaya laten di balik kebiasaan jajan sembarangan, sekaligus membangun ekosistem konsumen yang lebih cerdas dan peduli pada kesehatan tubuh.









.sm.jpg)




























