Meraup Untung dari Beternak Tikus
Rabu, 19 Agustus 2015 11:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Padangan - Ratusan tikus putih berukuran kecil terdengar gemericit. Cicitan hewan berkaki empat itu meramaikan sebuah rumah di Desa Purworejo, Kecamatan Padangan. Dalam sebuah ruangan berukuran 6 X 4 meter tersebut tampak puluhan kotak plastik berjajar pada sebuah rak yang memenuhi dinding kandang.
Puluhan kotak plastik berwarna hijau tersebut merupakan rumah dari sejumlah tikus-tikus putih piaraan David Reza. Pemuda berkulit sawo matang itu memelihara sekitar 500 ekor tikus. Terdiri dari dua macam tikus putih yakni tikus mencit dan tikus rat.
“Tikus mencit cenderung lebih kecil daripada tikus rat,” tutur pemuda 25 tahun tersebut.
Sambil menangkap beberapa tikus untuk dimasukkan kandang, David menceritakan, awal mula dirinya bergelut dalam penangkaran tikus pada 2012. Saat itu dirinya tidak berniat memelihara tikus, hanya saja setiap minggu dirinya membeli puluhan tikus untuk pakan ular. Hal itu membuatnya berpikir untuk memelihara sendiri tikus-tikus tersebut.
David menambahkan dalam satu boks atau kandang, menurut dia diisi 5 ekor tikus usia kawin. Perbandingannya 1:4. satu ekor tikus jantan untuk 4 ekor tikus betina. Dalam setiap ekor betina, bisa melahirkan 5 hingga 10 ekor tikus anakan.
Untuk tikus jenis mencit, pada ukuran 7 hingga 10 sentimeter sudah paling besar dan sudah bisa dijual. Sedangkan jenis rat tumbuh maksimal pada ukuran 15 hingga 30 sentimeter.
Dalam berternak tikus, tempat penangkaran, menurut David harus sering dibersihkan. Menurutnya, penangkaran miliknya setiap dua minggu sekali dibersihkan. Sebab, menurut dia, jenis makanan dan tempat penangkaran sangat mempengaruhi karakter tikus. Jika tempatnya kotor dan makanannya ngawur, menurut dia tikus akan bersifat lebih agresif dan seperti layaknya tikus liar pada umumnya. Namun, jika tempatnya bersih dan makanannya campuran nasi dan pelet, tikus akan bersifat lebih lunak dan penurut seperti hewan konsumsi pada umumnya.
Prospek usaha penjualan tikus sangat bagus. Sebab, masih banyak pehobi ular, burung hantu dan elang. Sehingga, menurut dia, selama masih ada yang memelihara beberapa hewan karnivora di atas bisa dipastikan kebutuhan akan tikus juga tidak akan hilang. Sebab, peminat terbesar tikus konsumsi merupakan pemelihara hewan-hewan tersebut.
Selain dari kota Cepu, peminat tikus konsumsi miliknya meliputi Kota Semarang dan Surabaya. Untuk daerah Cepu memang banyak komunitas pecinta hewan karnivora. Hal tersebut merupakan keuntungan tersendiri bagi penangkar tikus yang tentunya menjadi makanan pokok.
Tikus-tikus tersebut, dia jual perekor dengan harga yang berbeda. Untuk tikus konsumsi jenis mencit dia jual dengan harga Rp. 5.000 per ekor. Sedangkan untuk tikus jenis rat, karena berukuran lebih besar, dia jual dengan harga Rp 7.000 hingga Rp 15.000 per ekor. “Karena ada komunitas jadi semua pembeli merupakan pelanggan,” pungkas dia. (rul/kik)































.md.jpg)






