Harga Kedelai Naik, Usaha Tahu dan Tempe Tetap Produksi
Kamis, 20 Agustus 2015 13:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota – Harga kedelai di pasaran kini melambung. Kedelai impor dari Amerika Serikat harganya naik seiring naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah. Selain itu, hasil panen kedelai dari petani lokal Bojonegoro juga berkurang seiring terjadinya kekeringan dan kemarau panjang.
Kendati demikian, para perajin tahu dan tempe di Bojonegoro masih terus menggeliat. Mereka tetap berproduksi meski biaya produksi terutama bahan baku kedelai membelit. Seperti halnya para perajin tahu dan tempe di kawasan Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro.
Salah satu perajin tahu, Woko (32), warga RT 02 RW 04, Desa Ledok Kulon, saat ditemui BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, mengatakan, ia bekerja sebagai bagian penjualan di usaha rumah tangga kerajinan tahu milik Hendro. Ia mengatakan, saat ini usaha rumah tangga tahu di tempatnya bekerja dan di kawasan Ledok Kulon menggunakan bahan baku kedelai impor. Padahal, harga kedelai impor dari Amerika Serikat itu sebetulnya lebih mahal daripada kedelai lokal.
“Kedelai impor tidak menyerap minyak banyak ketika digoreng. Berbeda dengan kedelai lokal. Karena itu, para perajin lebih senang memakai kedelai impor. Untuk menyiasati harga kedelai impor yang terus naik, biasanya kami mencampur kedelai lokal dengan kedelai impor,” ujarnya, Kamis (20/08).
Sampai saat ini, pabrik tahu Pak Hendro tidak mengurangi jumlah produksi tahu. Dalam sehari pabriknya, membutuhkan sekitar dua kuintal kedelai. Tahu-tahu miliknya sebagian besar dipasarkan di Tuban. "Sebagai salah satu pelaku usaha rumah tangga, diharapkan pemerintah mampu menjaga kestabilan harga kedelai," ujarnya. (ver/kik)































.md.jpg)






