Disperindag : Harga Kedelai Lokal Dipastikan Turun Bulan Depan
Jumat, 21 Agustus 2015 15:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh : Vera Astanti
Kota - Melonjaknya harga kedelai di pasaran rupanya meresahkan pelaku home industri di Bojonegoro. Kendati demikian, produksi tahu tempe tetap berjalan tanpa pengurangan produksi meskipun selalu dihantui kekhawatiran. Harga kedelai import mencapai Rp7.000/ Kg, sedangkan harga kedelai lokal maksimal Rp6.000/ Kg. Sayangnya, kedelai lokal barangnya belum ada. Karena kekeringan, panen baru bisa bulan depan. Kenaikan harga terjadi sudah sejak sepuluh hari yang lalu.
Slamet, salah satu pedagang kedelai di Pasar Tobo, Kecamatan Padangan, membenarkan hal tersebut. "Kedelai impor dari Amerika Rp7.200. Sebelumnya Rp6.900, itu yang warna merah. Sedangkan kedelai hijau Rp7.000, yang sebelumnya Rp6800. Untuk kedelai lokal Rp5.800 sampai Rp6.000. Cuma barangnya nggak ada," kata Slamet.
Slamet menambahkan keterangannya bahwa kedelai lokal baru akan dipanen pada bulan September mendatang.
Rata-rata kebutuhan kedelai per minggu sebanyak 15 ton. Permintaan terbesar adalah dari dari perajin tempe dan tahu.
Sementara itu, Kepala Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bojonegoro, Basuki, kepada BBC, sebutan Berita Bojonegoro.com, memastikan harga kedelai lokal akan turun pada bulan depan.
"Kenaikan harga kedelai impor itu dikarenakan nilai tukar rupiah yang melemah. Maka perlu penguatan pada nilai tukar rupiah. Sedangkan untuk kedelai lokal harganya naik karena pasokan barangnya yang kurang. Dipastikan bulan depan harga kedelai lokal akan turun karena para petani sudah panen. Ada penambahan pasokan," terang Basuki melalui panggilan seluler kepada BBC.(ver/ moha)
Sumber Foto : truthabouttrade.org































.md.jpg)






