News Ticker
  • Kualitas Udara di Bojonegoro Alami Penurunan Drastis
  • Pemkab Bojonegoro Kembali Gulirkan Program Domba Kesejahteraan, Sasar 3.325 Penerima
  • Mengenal Hara Hachi Bu di Jepang, Rahasia Umur Panjang Lewat Kebiasaan Berhenti Makan Sebelum Kenyang
  • Prakiraan Cuaca 05 Mei 2026 di Bojonegoro
  • 05 Mei dalam Sejarah
  • kalender Jawa, Besok tanggal 05 Mei 2026 jatuh pada hari Selasa Pahing
  • BSPS Jawa Timur Naik 10 Kali Lipat, Menteri PKP Targetkan 33 Ribu Rumah Tahun Ini
  • Memahami Diri Sendiri Lebih dari Sekadar Apa yang Terlihat
  • BLT DBHCHT Bojonegoro Cair Paling Lambat Pekan Kedua Bulan Mei
  • Prakiraan Cuaca 04 Mei 2026 di Bojonegoro
  • 04 Mei dalam Sejarah
  • Harga Emas hari ini 4 Mei 2026
  • kalender Jawa, Tanggal 04 Mei 2026 jatuh pada hari Senin Legi
  • Pemerintah Perkuat Perlindungan Buruh Lewat Paket Regulasi Baru
  • Gubernur Khofifah Pastikan Stok Hewan Kurban di Jatim Melimpah, Siap Sokong Daerah Lain
  • Avanza Terperosok ke Sawah di Kapas Bojonegoro, Diduga Sopir Kurang Konsentrasi
  • Semangat Hidup Sehat dan Kelestarian Alam Warnai Spekta Bumi Fun Run 2026 di Pilanggede
  • Prakiraan Cuaca 03 Mei 2026 di Bojonegoro
  • 03 Mei dalam Sejarah
  • Tersengat Listrik, Seorang Pekerja Peternakan Ayam di Sumberrejo, Bojonegoro Meninggal Dunia
  • Kemnaker Terbitkan Aturan Baru Outsourcing, Hanya 6 Bidang Pekerjaan yang Diizinkan
  • Khofifah Tegaskan Jatim Pertahankan Posisi Barometer Pendidikan Nasional
  • Perubahan Urine Bisa Jadi Tanda Awal Gangguan Ginjal, Ini Kata Dokter
  • Prakiraan Cuaca 02 Mei 2026 Bojonegoro
Gelisah, Tiada Generasi yang Mau Jadi Kusir Andong

Supangat, 47 Tahun Jadi Kusir Andong

Gelisah, Tiada Generasi yang Mau Jadi Kusir Andong

Oleh Linda Estiyanti

Kota - Pada zaman yang serba canggih dan cepat ini, ternyata di Kota Bojonegoro masih ada andong sebagai alat transportasi umum. Andong atau kereta yang ditarik kuda, masyarakat lebih sering menyebutnya dokar, tersebut masih cukup banyak dijumpai di beberapa sudut kota.

Kebanyakan andong-andong itu dimiliki dan dikusiri oleh warga asli Bojonegoro. Salah satunya, Supangat (61), warga Dusun Parengan, Desa Sumberagung, Kecamatan Dander. Ia telah menekuni pekerjaan sebagai kusir andong kurang lebih 47 tahun lamanya. Hingga sekarang ia masih menjaga warisan leluhurnya itu.

Supangat menuturkan, menjadi kusir andong atau dokar sudah dilakoninya sejak 1969 silam. Saat itu usianya baru menginjak 15 tahun. Semula bapaknya, yang juga seorang kusir andong, kerap mengajaknya ketika menarik andong. Dari situlah ia belajar mengendalikan kuda.

Supangat muda adalah sosok yang kuat diantara pemuda seusianya. Meski badannya kecil, tetapi ia pemuda yang terbiasa bekerja keras. Pemuda tamatan SD kini menyadari beban beratnya sebagai anak orang desa dengan tingkat perekonomian serba kekurangan.  Bapaknya hanya seorang kusir andong, sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang terkadang ikut buruh tani di sawah orang.

"Sejak muda saya sudah membantu orangtua, terkadang menggantikan bapak menarik andong, terkadang juga ikut ke sawah," kenang Supangat sembari mengendalikan kuda, kepada beritabojonegoro.com (BBC) yang kebetulan menjadi penumpang andongnya, beberapa waktu lalu.

Bapaknya sejak kecil membiasakan Supangat hidup mandiri dan siap menjalani kerasnya hidup dengan menarik andong. Kemudian bapaknya yang sudah termakan usia pun mengalami sakit hingga kemudian meninggal, empat tahun kemudian. "Setelah empat tahun saya diajari kemudian bisa menarik andong sendiri, bapak meninggal karena usia sudah tua, mencapai delapan puluh tahunan," tuturnya.

Hidup sebagai kusir andong, sepeninggal bapaknya, ia mengaku seperti mulai menikmati pekerjaannya. Ia pun memantapkan pilihan untuk menjadikan kusir sebagai pekerjaan tetapnya. "Mau kerja apa bingung. Saya cuma punya itu, kereta dan kudanya, itu pun kalau di zaman sekarang nilainya sudah mencapai Rp 12,5 juta. Mau dijual ya gak ada yang beli, akhirnya saya pelihara dan manfaatkan sendiri," ujarnya sambil tertawa.

Begitu seterusnya, kegigihan Supangat berhasil menarik hati seorang perempuan asal Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander. Kemudian ia menikah dengan perempuan tersebut hingga dikaruniai 5 orang anak, yang semuanya perempuan. Kemudian seiring waktu berjalan, ia mengaku, sempat mengalami dilema dengan pekerjaannya.

"Anak lima, sementara menjadi kusir penghasilannya juga tidak jelas. Kemudian saya bertekad membeli sawah dari warisan orangtua, ya yambi kerjaan kusir dengan bertani," ungkapnya.

Waktu pun terus berjalan. Rupanya sang istri cukup pandai mengatur keuangan keluarga, sehingga Supangat mampu membeli beberapa ekor kambing. Dia pun mulai berternak kambing. Ternak itu dijadikan sebagai tabungan untuk menyekolahkan anak-anaknya. "Alhamdulillah, semua anak saya bisa sekolah. Semuanya lulusan Tsanawiyah (MTs) Abu Darrin. Hanya yang paling bungsu agak susah dididik sehingga hanya lulus SD," ujarnya sesekali mengulas senyum ramah.

Sebagai kusir andong, bagi Supangat termasuk pekerjaan mulia. Pekerjaan apa pun, katanya, selama ditekuni dan dijalani dengan ikhlas akan menghasilkan sesuatu yang membawa berkah. Itulah yang selalu ia yakinkan pada diri sendiri. Kemudian apa yang ia tekuni ini, juga diikuti beberapa kawannya, tetangga dekat rumah. Mereka mengikuti pekerjaan menjadi kusir andong. Hingga kini, sekitar 9 andong yang dijumpai di Kota Bojonegoro, dikusiri oleh kawan-kawannya itu.

"Kami belum memiliki paguyuban. Dulu pernah ada, namun sepeninggal ketuanya, paguyuban tidak ada yang mengarahkan sehingga kami jalan sendiri-sendiri. Mungkin beberapa masih berkelompok, seperti ini, lima andong ini, kita semua dari Dander, hanya saja beda desa," terang Supangat sambil menunjuk pada 4 andong lain yang berjalan di depannya.

Ia menjelaskan, untuk menemui andong-andong ini, bisa mencari di sekitar kawasan Pasar Kota Bojonegoro, Pasar Dander, atau Pasar Desa Ngumpakdalem. "Ya meskipun penghasilannya tidak tentu, mau bagaimana lagi, ini seperti sudah menjadi pilihan hidup, harus disyukuri," tuturnya.

Supangat mengaku, penghasilannya dalam sehari bekisar Rp 30.000 sampai Rp 40.000, tergantung pada ramainya penumpang. Namun berbeda saat ramai carteran atau sewaan, penghasilannya bisa mencapai Rp 80.000 hingga Rp 160.000. Jumlah tersebut tentu lebih besar meski belum dirasa cukup untuk menghidupi keluarganya. "Ya tidak cukup kalau tidak punya hasil dari sawah," katanya sambil tersenyum.

Supangat, dan kawan-kawannya sesama kusir andong tidak lagi gelisah dengan penghasilan yang mereka dapat. Sejak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Perhubungan mengizinkan andong memasuki wilayah kota, penghasilan para kusir andong itu masih terjaga. "Justru kegelisahannya, karena tidak ada lagi generasi yang bisa dan mau meneruskan pekerjaan ini. Lama-kelamaan pasti transportasi tradisional ini akan hilang ditelan zaman," keluhnya.

Ia berharap, segera ada kebijakan dari Pemerintah Kabupaten yang melindungi keberadaan andong-andong ini. Karena bagaimanapun, kalau tidak segera ada kebijakan, andong yang merupakan transportasi tradisional di Bojonegoro bisa benar-benar hilang ditelan zaman. "Apabila tidak berlebihan, kami berharap ada kebijakan Pemkab untuk melindungi andong," harapnya. (lyn/tap)
   

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Memahami Diri Sendiri Lebih dari Sekadar Apa yang Terlihat

Memahami Diri Sendiri Lebih dari Sekadar Apa yang Terlihat

Di tengah kehidupan yang berjalan semakin cepat dan penuh tuntutan, tidak sedikit orang yang diam-diam merasa tertinggal, seolah-olah dirinya belum ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

Bojonegoro - Sepanjang 2025, produksi minyak Blok Cepu kembali melampaui target pemerintah. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), sebagai operator salah satu ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

Hiburan

Film Para Perasuk, Ruang Aman di Balik Magis Desa Latas

Film Para Perasuk, Ruang Aman di Balik Magis Desa Latas

Sutradara Wregas Bhanuteja kembali menggebrak sinema tanah air melalui karya terbarunya, Para Perasuk. Berbeda dengan pakem film bertema mistis pada ...

1777959990.8784 at start, 1777959991.1651 at end, 0.28671622276306 sec elapsed