Penambang Pasir Mekanik Sekitar Bendung Gerak Harus Ditertibkan
Rabu, 11 Mei 2016 10:00 WIBOleh Heriyanto
Oleh Heriyanto
Kalitidu - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo, mengatakan, ambrolnya plengsengan Bendung Gerak itu diduga karena tekanan dan gerusan air yang mengalir deras. Selain itu, sekitar lokasi bangunan masih terdapat penambang pasir yang menggunakan mesin mekanik. Baik itu di bagian hulu maupun bagian hilir Bendung Gerak.
"Seharusnya penambang pasir mesin mekanik ini sudah tidak diperbolehkan operasi. Dan jarak radius sekitar 500 meter harus steril dari kegiatan tambang," ungkap Andik.
Jika secara terus menerus para penambang mekanik itu tetap beropersi, kata Andik, maka jembatan Bendung Gerak terancam longsor. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya mengaku sudah melakukan koordinasi dengan penegak hukum untuk menertibkan para penambang pasir Sungai Bengawan Solo di sekitar Bendung Gerak.
"Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak Satpol PP maupun Kepolisian untuk menertibakan penambang pasir di sekitar lokasi bangunan Bendung Gerak," pungkasnya.
Sementara itu menurut Gito, 38, warga Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, kerusakan plengsengan dan bangunan selasar Bendung Gerak mulai terjadi sejak setahun terakhir. Beberapa kali, kata dia, bangunan selasar pecah dan ambrol dan diperbaiki. Namun, kata dia, setelah terjadi banjir dan genangan terjadi kerusakan lagi bangunan plengsengan dan selasar.
“Perbaikan bangunan selasar dan plengsengan itu harus segera dilakukan. Kalau tidak kerusakan akan terus bertambah,” ujar Gito yang sehari-hari berjualan es di bawah jembatan Bendung Gerak.
Bendung Gerak itu mulai dibangun pada 5 Mei 2009 dan selesai pada Maret 2012. Bendung gerak itu dibangun oleh PT Waskita Adhi Karya dan PT Barata. Sedangkan, konsultan pembangunan bendung gerak itu dari Jepang. Pembangunan bendungan gerak itu menghabiskan dana senilai Rp351 miliar.
Di atas Bendung Gerak dibangun jembatan penghubung Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, dengan Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Panjang jembatan di atas bendungan itu sekitar 504 meter dengan lebar 3,7 meter.
Bendung gerak itu sebenarnya dimanfaatkan untuk pengairan pertanian sekaligus tempat menyimpan cadangan air baku untuk kebutuhan industri di wilayah barat Bojonegoro. Bendung gerak itu mempunyai sembilan pintu radial yang dapat dinaikkan atau diturunkan secara elektrik. Dua pintu air itu lebarnya 7,5 meter dan enam pintu air lainnya mempunyai lebar 15 meter. Sedangkan, panjang pintu air itu masing-masing lebarnya 7,3 meter.
Untuk keperluan pertanian, tampungan air di bendung gerak itu lebarnya 504 meter dan panjangnya 1.814.752 meter. Bendungan itu juga mampu menampung air sebanyak 13 juta meter kubik dari daerah tangkapan air seluas 12.467 kilometer persegi. (her/kik)































.md.jpg)






