Terdampak Dolar, Perajin Batik Jonegoroan Terancam Gulung Tikar
Kamis, 03 September 2015 09:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Sumberejo – Perajin batik Jonegoroan terkena dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Sebab, harga bahan baku terutama bahan untuk mewarnai batik kini melambung. Akibatnya, perajin batik Jonegoroan kini harus memutar otak agar usaha kerajinan batik tidak gulung tikar.
Perajin batik Jonegoroan di Bojonegoro tersebar di sejumlah kecamatan di antaranya di Sumberejo, Temayang, Kalitidu, Bojonegoro, dan Purwosari. Sedikitnya saat ini ada 50 perajin batik tulis dan batik cap. Mereka kebanyakan merupakan perajin batik khas Jonegoroan.
Menurut Ahmad Aris, 34, perajin batik di Desa Prayungan, Kecamatan Sumberejo, sejak rupiah melemah dampaknya terjadi kenaikan bahan baku batik. Mulai dari kain, pewarna, lilin, dan sejenisnya. Kenaikan harga bahan baku itu dari lima persen sampai 25 persen.
“Hampir semua bahan baku batik ini naik. Kami khawatir kondisi ini akan terus berlangsung apabila rupiah terus melemah,” ujarnya.
Ia menyebutkan, bahan baku lilin yang digunakan untuk campuran canting (alat pembatik) yang biasanya seharga Rp25.000 per kilogram kini naik menjadi Rp50.000 per kilogram. Begitu pula dengan pewarna khusus kuning naik dari Rp200.000 per kilogram menjadi Rp250.000 per kilogram. Selain itu, pewarna khusus biru juga naik dari sebelumnya Rp450.000 per kilogram naik menjadi Rp500.000 per kilogram.
Kenaikan bahan baku batik ini, kata dia, terjadi dua pekan terhitung bulan Agustus 2015. Terutama setelah harga rupiah di atas Rp 13.500 per dolar. Sehingga jika dolar sudah di atas 14.000 per rupiah maka para perajin akan kian resah. Karena, harga bahan baku akan terus melonjak.
“Semua perajin kini resah dengan kondisi naiknya harga bahan baku ini,” ujarnya.
Padahal, kata Aris, selama dua-tiga tahun belakangan ini, batik Bojonegoro sedang naik daun. Misalnya produksi rumahan bersama orang tuanya di Desa Prayungan, relatif stabil. Minimal bisa mencetak 20 batik per harinya dan jumlah itu bisa bertambah jika mendekati hari-hari besar atau dapat pesanan. Selain itu dari pekerja sebanyak dua orang kini sudah ada lima orang.
Namun, dengan lemahnya rupiah atas dolar, maka kemungkinan akan mengurangi produksinya atau menaikkan harga batik. Dari rata-rata Rp 90.000 per potong untuk kualitas batik cap dan di atas Rp 200.000 untuk kualitas batik cap dan tulis, serta di atas Rp 300.000 untuk batik tulis.
Perajin batik Jonegoroan lainnya di Desa/Kecamatan Purwosari, Untoro, mengatakan, saat ini kondisi perajin batik Jonegoroan memang sedang kelimpungan. Sebab, harga bahan baku terus naik. Sementara, para perajin batik Jonegoroan belum menaikkan harga jual batik Jonegoroan.
“Sekarang ini kami terpaksa bertahan dulu. Soal harga jual batik Jonegoroan dinaikkan atau tidak, kami masih menunggu kesepakatan di antara para perajin batik dan juga dari Dekranasda,” ujarnya pada BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, Kamis (03/09).
Ia mengatakan, saat ini produksi batik Jonegoroan tetap normal. Ia mengerjakan batik tulis dan juga batik cap. Sementara dari pesanan juga masih banyak terutama dari instansi dan sekolah-sekolah.
Selama ini para perajin batik di Bojonegoro terbantu oleh kehadiran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro. Produk yang dikenal dengan sebutan batik Jonegoroan dikumpulkan dengan berbagai motif. Seperti batik motif daun waru, daun jati, kembang mangga, dan sejenisnya.
Motif-motif batik jonegoroan muncul setelah digelar pameran batik yang digagas Bupati Bojonegoro Suyoto. Batik Jonegoroan digunakan untuk cinderamata di mana pemasarannya selain pemilik batik sendiri, juga lewat stan di Dekranasda dan dinas perindustrian dan perdagangan Bojonegoro. (ori/kik)
*foto perajin sedang mengerjakan batik tulis Jonegoroan































.md.jpg)






