Tembakau Rajangan Menumpuk
Petani Keluhkan Tutupnya Gudang PT Djarum
Sabtu, 12 September 2015 13:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Baureno - Sejumlah petani tembakau di Baureno mengeluhkan tersendatnya proses penyetoran tembakau hasil rajangan. Macetnya proses penyetoran ini karena belum dibukanya gudang PT Djarum. Padahal persediaan tembakau hasil rajangan di rumah mereka semakin menumpuk.
Petani tembakau juga merasa rugi. Karena harga tembakau rajangan terus menurun. Saat ini harga tembakau rajangan turun menjadi Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Padahal sebelumnya mencapai Rp 15.000 per kilogramnya.
"Penurunan harga itu terjadi baru tiga hari lalu. Ini akibat gudang pabrik PT Djarum masih tutup, dan menumpuknya jumlah tembakau rajangan di rumah petani," ujar Sumaryono (53), salah satu petani dan perajang tembakau di Baureno, kepada BBC sebutan BeritaBojonegoro.com, Sabtu (12/09).
Keluhan senada disampaikan Totok Hermanto (50), petani dan perajang tembakau lainnya. Dia menjelaskan, saat ini sebenarnya sudah masuk waktu penyetoran tembakau hasil rajangan ke gudang. Sayangnya, gudang PT Djarum belum bisa menerima setoran tembakau rajangan, karena masih tutup.
"Dulu itu ada dua gudang penyetoran tembakau rajangan, yakni PT Djarum dan PT Gudang Garam. Tetapi sekarang hanya tinggal satu, ya, gudang PT Djarum itu. Kalau gudang belum buka, rajangan saya ya nganggur, Mas," keluh bapak dua anak itu.
Sumaryono menambahkan, petani dan perajang tembakau saat ini hanya bisa berharap pada gudang PT Djarum untuk segera buka dan menerima setoran tembakau. "Ya, supaya keringat kami selama ini, mulai penanaman sampai pemetikan, bisa segera terbayar," pungkasnya. (ori/tap)
*) Foto tembakau rajangan dijemur































.md.jpg)






