Di Baureno, Angkutan Dokar Masih Jadi Pilihan
Senin, 14 September 2015 15:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Baureno - Desakan alat transportasi bermesin semestinya membuat sejumlah angkutan tradisional tergeser. Namun, situasi ini tidak terjadi di wilayah Kecamatan Baureno. Alat transportasi tradisional, semacam becak dan dokar, masih terlihat lalu lalang mengangkut penumpang.
Khusus dokar, para kusir masih bisa tersenyum dan beroperasi tiap hari di wilayah Baureno. Mereka mengaku tidak akan berhenti mengusiri dokar. Sebab, selain satu-satunya mata pencaharian, narik dokar itu juga bisa menjadi daya tarik wisata. Karena itu, meski usia makin menua mereka tetap bersemangat mengusiri dokar.
Salah satu kusir itu, Munandar (59), warga Desa Kauman, Kecamatan Baureno. Dia mengaku, sudah puluhan tahun menekuni pekerjaan sebagai kusir dokar. Setiap hari, mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB sore, dia mangkal di depan pasar Baureno menunggu pelanggannya. "Pangkalan saya sejak dulu ya di pasar Baureno ini," ujar bapak dua anak itu saat ditemui BeritaBojonegoro.com, Senin (14/09).
“Soal tarif, relatif murah, tergantung jarak tempuh yang dituju penumpang. Pokoknya jarak sekitar satu kilometer saya tarif Rp 1.000," jelasnya.
Menurutnya, meski sekarang banyak angkutan umum modern, tidak membuat sejumlah pelanggannya beralih angkutan. Pelanggan masih setia memilih berkendara dokar. "Ada sekitar lima pelanggan tetap yang saya antar setiap hari," imbuhnya.
Dia menjelaskan, pendapatan perharinya akan naik saat hari libur. Karena banyak pendatang luar kota yang berkunjung ke keluarganya. Mereka lebih memilih naik kendaraan tradisional. "Pendatang dari Surabaya dan Lamongan yang berkunjung ke keluarganya, pada saat ke pasar, sepulangnya kebanyakan lebih memilih naik dokar," tuturnya.
Munandar melanjutkan, lewat narik dokar inilah dia mencukupi kebutuhan keluarganya, merawat dan menyekolahkan anak-anaknya. Karena ini pekerjaan satu-satunya, sejak dulu.
Sutini (47), salah satu pelanggan Munandar mengatakan, dirinya lebih memilih naik dokar karena tidak ada polusi, udaranya lebih terasa sejuk, tidak pengap seperti di dalam mobil. "Kalau naik dokar itu adem, semriwing pokoknya," ujarnya. (ori/tap)
*) Foto kusir dokar































.md.jpg)






