Berkah Kemarau Bagi Penambang Kumbung
Selasa, 15 September 2015 20:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Baureno - Musim kemarau membawa berkah bagi para penambang batu bata putih (kumbung) di pegunungan Kapur Dusun/ Desa Gajah, Kecamatan Baureno. Pasalnya, di musim kemarau ini banyak masyarakat yang membangun rumah.
Hal itu dikatakan oleh oleh Bejo (41), warga Dusun/ Desa Gajah, penambang setempat. Dia menjelaskan, kumbung yang ditambang dengan cara tradisional itu dikumpulkan setiap hari. Dengan peralatan gancu, palu dan gergaji, Kata Bejo, penambang bisa mendapatkan sekitar 50 kumbung perharinya.
"Bisa kurang, bisa lebih," jelasnya saat ditemui beritabojonegoro.com (BBC), Selasa (15/09), usai menambang.
Bejo melanjutkan, para penambang melakukan penjualan kumbung dengan cara kolektif. Caranya, kumbung hasil dari sejumlah penambang dikumpulkan menjadi satu, kemudian dijual bersama - sama. Karena, Kata Bejo, jika dijual terpisah pasti kualahan. "Soalnya, jumlah pemesanan tidak sedikit, dan pemesan tidak hanya satu-dua saja," terangnya.
Tentang harga, Wartono menambahkan, batu kumbung hasil tambangnya berukuran 10 x 25 cm. Perbijinya, Kata Wartono dibandrol dengan harga Rp1.700. "Jika ada yang pesan dengan ukuran lebih besar, maka harganya tinggal nambah," tandasnya.
Wartono menerangkan, musim kemarau ini, mengalami peningkatan permintaan. Pasalnya, kata Wartono, banyak masyarakat yang sedang membangun rumahnya. Sementara itu, kualitas batu di musim kemarau ini juga lebih bagus. " Kalau kemarau seperti ini batunya tidak mengandung air. Jadinya keras, tidak mudah pecah," pungkasnya. (ori/ moha)































.md.jpg)






