Mbah Yabi, Jamaah Haji yang Meninggal di Tanah Suci
Dituakan Di Kampungnya, Sering Menyembuhkan Penyakit Anak-Anak
Selasa, 15 September 2015 21:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Kedungadem- Suasana duka menyelimuti keluarga dan para tetangga korban meninggal di Tanah Suci, Suyabi. Sebuah rumah nampak ramai dipadati warga. Rumah tersebut adalah milik keluarga almarhum Suyabi. Mereka berkumpul untuk mendoakan Suyabi. Orang yang dituakan di Dusun Kepohjambi, Desa Kepohkidul, Kecamatan Kedungadem ini telah meninggalkan mereka untuk selama - lamanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Mbah Yabi, sapaan akrab Suyabi sehari - hari, menghembuskan nafas terakhirnya di Tanah Suci senin kemarin (14/09). Mbah Yabi meninggal karena penyakit jantung.
Slamet, tetangga dekat Suyabi, memang calon haji ini sudah lama mengidap penyakit jantung. Kata dia, penyakitnya terkadang juga kambuh. "Namun saat keberangkatannya kemarin, keadaannya tampak fit, segar bugar. Saat hajatan Walimatul Hajj, Mbah Yabi sempat minta maaf ke seluruh tetangga dan keluarga," terangnya.
Suparlan, tetangga yang lain, mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya dari Tanah Suci, bahwa cuaca di sana buruk. "Mungkin karena keadaan cuaca di Makkah tak begitu menentu, makanya penyakitnya itu kambuh," ujarnya saat ditemui beritaBojonegoro.com, petang hari ini (15/09).
Suparlan melanjutkan, setelah mendengar kabar itu, tak berapa lama kemudian keluarga dan para tetangga segera melakukan sholat ghaib di Mushola yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah Mbah Yabi.
Di musholla itu pula, kata Suparlan, Mbah Yabi sehari-hari shalat jamaah. Shalat Ghaib ini sama dengan shalat jenazah, hanya saja dilakukan ketika jenazah berada di tempat yang jauh. Jenazah tidak berada di tempat yang melakukan shalat.
Tentang Mbah Yabi, Suparlan menambahkan keterangannya, beliau adalah sosok yang dituakan di kampung. Kata dia, Mbah Yabi biasa membantu masyarakat yang membutuhkan penyembuhan, terutama anak-anak. Anak - anak kecil yang sering terserang penyakit seperti panas, sawan, kata Parlan, juga para ibu - ibu yang ingin menyapih anak (menghentikan ASI), juga datang ke Mbah Yabi. " Pokoknya setiap ada masalah dengan anak - anak, pasti segera ke Mbah Yabi" terangnya.
Suparlan menambahkan, Mbah Yabi tergolong orang yang sukses dalam merawat dan mendidik anak - anaknya. Ketiga putranya semuanya jadi orang bisa dibilang orang yang sukses. Namun mereka tetap rendah hati, segan disebut sukses.
"Yuharto, anak sulung Mbah Yabi, kini menjadi kepala sekolah SMK. Juriyanto, anak kedua, menjadi staf sebuah pabrik di Pasuruan dan yang sulung, Jarwanto, kini menjadi Bayan (Kaur Umum) di kampungya," ungkapnya.
Malam ini, saat menerima kedatangan BBC, warga sekitar dan para keluarga berkumpul di rumah keluarga menyelenggarakan do' a bersama, berharap almarhum diterima di sisi-Nya. (ori/moha)
Foto : suprabhaatham.com































.md.jpg)






