News Ticker
  • Adam Bukan Manusia Pertama Karya Agus Mustofa
  • Petugas Penyeberangan Jembatan Bambu Bisa Dapat Rp 1 Juta dalam Sehari
  • Bak Truk Tronton Terguling di Margomulyo, Polisi Pantau Kelancaran Lalu-Lintas
  • Diduga Pengemudi Mengantuk, Pikap Tabrak Pohon Penghijauan di Kalitidu
  • Biaya Pembuatan Jembatan dari Bambu Bisa Mencapai 8 Juta Rupiah
  • KTM Bersenggolan dengan Honda Beat di Padangan, Tiga Orang Luka - Luka
  • Fotografi Bisa Menjelaskan yang Tak Bisa Ditulis
  • Jembatan Trucuk Akan Jadi Jembatan Tanpa Pancang Terpanjang di Jawa Timur
  • Musim Kemarau, Para Penambang Perahu Bangun Jembatan Penyebrangan Dari Bambu
  • Kapolres Bojonegoro Perintahkan Anggota Laksanakan Giat Cipta Kondis
  • Berkat Aplikasi CAS, Pelaku Tabrak Lari di Kalitidu, Berhasil Ditangkap Polsek Balen
  • Diduga Pengemudi Mengantuk, Xenia Tubruk Agya di Kalitidu, Lalu Melarikan Diri
  • Musim Kemarau Datang, Kabupaten Blora Siaga Kekeringan
  • Dari 10 Ribu Lulusan SMA, Baru 500 yang Kerja
  • Warga Desa Mojodelik Sepakat Ganti Rugi Pembebasan Lahan untuk Proyek JTB
  • Jika Ada Keluhan Masyarakat, EMCL Selalu Jalin Komunikasi dan Berikan Solusi
  • Meningkatnya Kasus HIV Berdampak pada Tingginya Kasus TB
  • Motor Tabrak Pejalan Kaki, 3 Orang Luka Luka
  • Kapolres Keluarkan Maklumat Selama Ramadan dan Perayaan Idul Fitri 1438 H
  • Yamaha F1Z Tubruk Pikap Dari Belakang di Balen, Pengendara Motor Patah Kaki

Menyelaraskan Cinta, Kerja dan Harmoni dalam Kehidupan Bermasyarakat

Menyelaraskan Cinta, Kerja dan Harmoni dalam Kehidupan Bermasyarakat

Oleh Roly Abdul Rokhman *)          

KEMAJUAN kehidupan zaman sekarang semakin menggembirakan. Namun apabila mau lebih cermat, kemajuan ini tetasa begitu hampa dan dirasakan kurang membahagiakan. Situasi yang seperti ini terjadi karena hiruk pikuk kemajuan tidak diimbangi dengan tumbuhnya perasaaan cinta dan kesadaràn untuk bekerja dan komitmen untuk menciptakan kehidupan yang penuh harmoni. Karenanya, tiga kata itu menjadi pelepas ketegangan atas carut marutnya realita kehidupan berbangsa saat ini.

Lihatlah fakta di lapangan. Betapa tragisnya antar elemen bangsa. Energi mereka terkuras untuk saling melapor ke polisi, karena di dadanya sudah tak ada lagi rasa cinta. Bahkan rasa cinta telah tergantikan dengan dendam kusumat yang membara. Hampir sebagian besar jiwa kita seakan telah menjadi sakit yang akut dan sulit diobati. Tatkala di hati ini ada dendam, maka cinta yang kita miliki akan hilang dan musnah  ditelan bumi. Akibatnya, kehampaan akan menjangkiti setiap diri sehingga akan berakibat pada ketegangan atau bahkan kecamuk permusuhan.

Karena kontrol diri terus melemah, maka pada saat ada lawan politik yang sedikit bermanuver melalui medsos, maka hal yang demikian ini menjadi celah untuk menyuburkan kebencian dan  langsung melaporkannya ke polisi dengan beragam dalih dan delik yang diciptakan. Seakan dengan melapor ke polisi ada kebanggaan yang klimaks yang sekaligus menunjukan kemampuan dan kelihaian bermanuver dihadapan  publik.

Mengapa situasi yang demikian ini semakin mengemuka dan bisa terjadi dengan begitu mudaahnya? Sudah barang tentu karena cinta sudah tidak hidup dalam diri dan telah tergantikan dengan dendam kusumat yang membara. 

Begitupun juga dengan semakin merebaknya beragam pekerjaan rumah yang begitu menumpuk di republik ini. Maka kerja nyata di keheningan yang seharusnya diwujudkan, niscaya seakan berubah menjadi jargon saja. Bekerja ikhlas seolah tidak ada peminatnya. Karena kerja hanya menjadi jargon pencitraan yang membutuhkan jepretan kamera dan publikasi media massa. Dengan popularitas yang diciptakan media, maka seorang akan berada di atas angin untuk dapat mewujudkan harapan  dan ambisi kehidupan yang telah diimpikan.

Padahal republik pada saat ini amat merindukan sosok seperti Soeharto yang rela bekerja di keheningan bahkan téjauhkan dari pemberitaan media. Pada saat awal-awal pembangunan para pendiri negeri ini tela hati untuk terjun ke pelosok daerah untuk mendampingi masyarakat secara langsung. Bahkan dia rela berada di tengah- tengah masyarakat untuk menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi kesejahteraan bersama dengan tidak ada media yang meliput. Para pendiri bangsa ini telah memberikan cotoh bagaimana para peminpin bisa bekerja dengan sungguh- sungguh dan tulus untuk keemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Situasi yang seperti ini menjadi amat langka ditemukan di era sekarang. Situasi yang betul-betul kerja, kerja dan kerja.

Di era ini, diakui ataupun tidak, sebagian besar orang, mereka bekerja pada umumnya lebih diorientasikan untuk pencitraan yang akan berdampak pada popularitas. Jadi jangan heran jika seorang yang bekerja bukan untuk karya nyata yang di raihnya tetapi popularitas yang sekaligus menjadi jembatan untuk mendapàtkan jabatan atau posisi yang lebih mapan. Situasi yang demikian ini terjadi karena hampanya rasa yang mendorong seorang untuk melahirkan karya yang bermanfaat bagi orang lain ataupun masyarakàt yang menjadi tanggung jawabnya.

Belakangan ini kehidupan masyarakat kita tidak hanya hampa dalam urusan cinta dan berkàrya. Namun, hubungan pergaulan  manusia sudah mulai ternodai oleh banyak pihak. Keharmonisan pergaulan menjadi urusan yang sangat sensitif  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa ataupun bernegara. Akhir-akhir ini juga mulai muncul tanda-tanda yang kurang kondusif. Lihatlah fakta di tengah keberagaman anak bangsa, di tengah kebhinekaan yang nyata di negeri tercinta ini, ada  yang mencoba menyalakan api untuk menyulut kebencian yang menimbulkan permusuhan dan pergolakan antar kelompok. Sehingga akan menimbulkan chaos.

Lihatlah dalam soal agama yang selama ini merupakan ranah privat yang sakral. Tetapi mengapa ada yang berani mencerca di depan publik tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, kasus pernyataan “Jangan mau dibohongi dengan al-maidah 51” masih dalam proses hukum, namun kasus tersebut belum tuntas, sudah muncul yang terbaru tatkala ulama menekankan keesaan Tuhan, di hadapan umatnya sendiri, “Bahwa Allah tidak punya anak dan tidak di peranakan.” Kalau Tuhan itu beranak, lantas siapa bidannya…?. Pernyataan ini justru dilaporkan oleh pemeluk agama lain, karena menurut mereka pernyataan  tersebut menistakan agama yang dianutnya. Apabila fakta ketidakharmonisan hubungan ummat beragama yang seperti ini dibiarkan berlarur-larut, maka akan dapat merusak harmoni dalam kehidupan  berbangsa dan bernegara yang pada akhirnya akan dapat memicu munculnya persoalan horizontal yang sangat merugikan masyarakat.

Kecuali ulama itu menjelekkan-jelekkan agama lain di hadapan pemeluknya. Akan tetapi faktanya kejadian di hadapan ummat Islam yang sedang mendalami akidah Islam! Ulama itu hanya dapat menegaskan keyakinan dan ini merupakan prinsip bahwa Allah tidak punya anak dan tidak pula di peranakkan!

Ini prinsip utama keesaan dalam Islam. Betapa ironinya jika seorang ulama menjelaskan  prinsip dasar akidah Islam di hadapan umat Islam lantas dengan tiba-tiba secara sepihak dilaporkan oleh umat yang beragama lain dengan tuduhan menistakan agama. Karena itu dalam urusan yang seperti ini pemerintah harus hadir dengan otoritas dan ketegasan dalam menegakkan pancasila sebagai nilai dasàr yang melandasi. Karena itu dalam konteks yang seperti ini bisa  dikatakan masih ada warga masyarakat yang gagal paham dalam memaknai toleransi umat beragama.

Apabila urusan yang seperti ini dibiarkan berlalu tanpa ada penanganan  yang serius, maka modus-modus yang seperti ini akan dapat merusak harmoni. Demikian pula rusaknya harmoni lebih banyak disebabkan  katena hilangnya rasa cinta pada diri seorang atau bahkan bisa dikatakan,“Matinya rasa cinta aka berakibat timbulnya disharmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Karena itu, ayo tumbihkan rasa cinta dengan saling memahami, menghormati dan menghargai sesama pemeluk agama, sesama warga negara. Cara ini diyakini akan menciptakan harmoni dalam kehidupan kita.

Cinta, kerja dan harmoni merupakan hasil refleksi mendalam terhadap kekuatan utama bangsa ini yang dirasakan semakin menghilang dari realitas kehidupan kita. Sekaligus pesan ini menjadi inspirasi dan spirit bahwa jika kita mampu menghadirkan cinta di hati kita, maka kerja- kerja nyata walaupun tidak ada jepretan kamera akan menjadi ringan dan akan memberikaan manfaat yang nyata dalam menyumbangkan  kesejahteraan dan kemaslahatan bagi orang banyak.

Apapun suku bangsa dan rasnya, apapun agama dan adàt istiadatnya, apapun yang sedang kita urusi harus terus dibingkai dengan spirit cinta, kerja nyata dan harmoni dalam menjalani kehidupan.

Semoga tulisan ini bermanfaat dalam membangkitkan kesaaran untuk bisa hidup lebih baik, lebih bermanfaat dan berkemajuan. Damailah Indonesiaku. Bahagialah bangsaku.

28 Desember 2016

 

*)Anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Sosok

Fotografi Bisa Menjelaskan yang Tak Bisa Ditulis

Wahyu Budianto Toak, Fotografer Bojonegoro

Fotografi Bisa Menjelaskan yang Tak Bisa Ditulis

Oleh Vera Astanti Lelaki itu sibuk menangkap momen. Bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan sebuah kamera yang tercengkeram erat ...

Quote

Nasihat Alam Kubur: Hidup Diantara Keterbatasan, Gengsi dan Iri

Nasihat Alam Kubur: Hidup Diantara Keterbatasan, Gengsi dan Iri

*Oleh Kang Yoto SEPERTI biasa saat di samping makam ayah ibu, saya selalu mendapatkan kesempatan bertadabbur dan tazakkur kehidupan lewat ...

Opini

Depresi, Ayo Curhat

Hari Kesehatan Sedunia

Depresi, Ayo Curhat

Oleh dr Achmad Budi Karyono TANGGAL 7 April ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Sedunia. Di era medsos ini dunia kesehatan mengangkat ...

Eksis

Alham Muhammad Ubay, Atlet Panjat Tebing Yang Suka Menggambar

Alham Muhammad Ubay, Atlet Panjat Tebing Yang Suka Menggambar

Oleh Vera Astanti Bojonegoro Kota - Tidak semua orang mampu menaklukan ketakutannya, terutama ketakutan akan ketinggian. Jangankan melakukan kegiatan ekstrem, ...

Pelesir

Kemendes Kucurkan Rp 1,5 M untuk Wana Wisata Migas Kedungpupur

Kemendes Kucurkan Rp 1,5 M untuk Wana Wisata Migas Kedungpupur

Oleh Priyo Spd BLORA Sekeretaris Jendral (Sekjen) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), Anwar Sanusi, dalam kunjungan ...

Kegiatan Masyarakat Bojonegoro

Senin, 29 Mei 2017

Berita Foto

Bak Truk Tronton Terguling di Margomulyo, Polisi Pantau Kelancaran Lalu-Lintas

Kecelakaan Tunggal

Bak Truk Tronton Terguling di Margomulyo, Polisi Pantau Kelancaran Lalu-Lintas

Oleh Heriyanto Margomulyo - Sebuah truk tronton bermuatan tepung, pada Minggu (28/05/2017) sekira pukul 14.00 WIB siang tadi, mengalami musibah ...

Infotorial

Pemuda Sekitar Operasi PEPC Siap Bersaing di Dunia Kerja

Pasca Pelatihan dan Sertifikasi Keterampilan Industri Migas

Pemuda Sekitar Operasi PEPC Siap Bersaing di Dunia Kerja

*Oleh Imam Nurcahyo BOJONEGORO-- Sebagai modal bersaing untuk mencari kerja atau untuk berwirausaha, sebanyak 20 pemuda yang berasal dari empat ...

Resensi

Adam Bukan Manusia Pertama Karya Agus Mustofa

Adam Bukan Manusia Pertama Karya Agus Mustofa

Oleh Muliyanto Nama Agus Mustofa cukup populer sebai penulis buku buku agama yang kontroversial. Buku buku yang Agus Mustfa tulis ...

Feature

Menyelarasakan Rasa dengan Musik Alternatif

Menyelarasakan Rasa dengan Musik Alternatif

Oleh Vera Astanti Bojonegoro - Dalam bermusik, alat apapun yang ada di sekeitar bisa digunakan, tinggal bisa mengolahnya atau tidak. ...

Teras

Surabaya Kini Jadi Kota Nyaman Ditinggali

Surabaya Kini Jadi Kota Nyaman Ditinggali

Oleh Heriyanto Bojonegoro Wajah Kota Surabaya kini banyak berubah. Tidak seperti dulu. Dulu Kota Pahlawan itu kesannya seperti lagunya Franky, ...

Statistik

Hari ini

216 pengunjung

444 halaman dibuka

83 pengunjung online

Bulan ini

115.750 pengunjung

354.570 halaman dibuka

Tahun ini

437.165 pengunjung

1.840.212 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 585.055

Indonesia: 13.171

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015

\