News Ticker
  • Inovatif Layani Publik, Kapolres Bojonegoro Terima Penghargaan dari Menpan RB
  • Investor Siapkan Dana Rp 72 Miliar Untuk Membangun Pasar Desa Ngampel
  • Cegah Konflik Tambang Pasir, Kapolsek Kanor Koordinasi dengan Kapolsek Rengel
  • Pengamanan Sigap, Pilkades PAW Berjalan Lancar dan Aman
  • Generasi Muda Harus Melek Politik
  • 5 Rumah Warga Sukosewu Terancam Longsor
  • Perbub Tentang Toko Modern Masih Tunggu Rekomendasi Disdag dan Pasar
  • Elf Serempet Mio, Pengendara Mio Terluka
  • Kisah Saudagar Buku dari Kabul yang Malang
  • Pemkab Gelar Diklat untuk Ciptakan Gaya Kepemimpinan Inovatif
  • Maraknya Isu Pemberitaan Penculikan Anak, Kapolres Bojonegoro Imbau Masyarakat Tetap Tenang
  • Sunarso, Terpilih Jadi Kepala Desa Sekaran Kecamatan Kasiman
  • H Abdul Manan Terpilih Jadi Kepala Desa Sumberagung Kecamatan Dander
  • Mulyono Terpilih Jadi Kepala Desa Deru Kecamatan Sumberrejo
  • Bersama IdFos, EMCL Deklarasikan Kader Kelompok Rumah Tangga Pilah Sampah
  • Tiga Motor Terlibat Kecelakaan Beruntun di Pertigaan Sidobandung Balen
  • Dari 10 Raperda, Baru Dua yang Sudah Turun dari Gubernur
  • Belajar Demokrasi, Siswa SD Muda Latihan Pemilu
  • Kapolres Pantau Langsung Pelaksanaan Pilkades Pergantian Antar Waktu

Menyelaraskan Cinta, Kerja dan Harmoni dalam Kehidupan Bermasyarakat

Menyelaraskan Cinta, Kerja dan Harmoni dalam Kehidupan Bermasyarakat

Oleh Roly Abdul Rokhman *)          

KEMAJUAN kehidupan zaman sekarang semakin menggembirakan. Namun apabila mau lebih cermat, kemajuan ini tetasa begitu hampa dan dirasakan kurang membahagiakan. Situasi yang seperti ini terjadi karena hiruk pikuk kemajuan tidak diimbangi dengan tumbuhnya perasaaan cinta dan kesadaràn untuk bekerja dan komitmen untuk menciptakan kehidupan yang penuh harmoni. Karenanya, tiga kata itu menjadi pelepas ketegangan atas carut marutnya realita kehidupan berbangsa saat ini.

Lihatlah fakta di lapangan. Betapa tragisnya antar elemen bangsa. Energi mereka terkuras untuk saling melapor ke polisi, karena di dadanya sudah tak ada lagi rasa cinta. Bahkan rasa cinta telah tergantikan dengan dendam kusumat yang membara. Hampir sebagian besar jiwa kita seakan telah menjadi sakit yang akut dan sulit diobati. Tatkala di hati ini ada dendam, maka cinta yang kita miliki akan hilang dan musnah  ditelan bumi. Akibatnya, kehampaan akan menjangkiti setiap diri sehingga akan berakibat pada ketegangan atau bahkan kecamuk permusuhan.

Karena kontrol diri terus melemah, maka pada saat ada lawan politik yang sedikit bermanuver melalui medsos, maka hal yang demikian ini menjadi celah untuk menyuburkan kebencian dan  langsung melaporkannya ke polisi dengan beragam dalih dan delik yang diciptakan. Seakan dengan melapor ke polisi ada kebanggaan yang klimaks yang sekaligus menunjukan kemampuan dan kelihaian bermanuver dihadapan  publik.

Mengapa situasi yang demikian ini semakin mengemuka dan bisa terjadi dengan begitu mudaahnya? Sudah barang tentu karena cinta sudah tidak hidup dalam diri dan telah tergantikan dengan dendam kusumat yang membara. 

Begitupun juga dengan semakin merebaknya beragam pekerjaan rumah yang begitu menumpuk di republik ini. Maka kerja nyata di keheningan yang seharusnya diwujudkan, niscaya seakan berubah menjadi jargon saja. Bekerja ikhlas seolah tidak ada peminatnya. Karena kerja hanya menjadi jargon pencitraan yang membutuhkan jepretan kamera dan publikasi media massa. Dengan popularitas yang diciptakan media, maka seorang akan berada di atas angin untuk dapat mewujudkan harapan  dan ambisi kehidupan yang telah diimpikan.

Padahal republik pada saat ini amat merindukan sosok seperti Soeharto yang rela bekerja di keheningan bahkan téjauhkan dari pemberitaan media. Pada saat awal-awal pembangunan para pendiri negeri ini tela hati untuk terjun ke pelosok daerah untuk mendampingi masyarakat secara langsung. Bahkan dia rela berada di tengah- tengah masyarakat untuk menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi kesejahteraan bersama dengan tidak ada media yang meliput. Para pendiri bangsa ini telah memberikan cotoh bagaimana para peminpin bisa bekerja dengan sungguh- sungguh dan tulus untuk keemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Situasi yang seperti ini menjadi amat langka ditemukan di era sekarang. Situasi yang betul-betul kerja, kerja dan kerja.

Di era ini, diakui ataupun tidak, sebagian besar orang, mereka bekerja pada umumnya lebih diorientasikan untuk pencitraan yang akan berdampak pada popularitas. Jadi jangan heran jika seorang yang bekerja bukan untuk karya nyata yang di raihnya tetapi popularitas yang sekaligus menjadi jembatan untuk mendapàtkan jabatan atau posisi yang lebih mapan. Situasi yang demikian ini terjadi karena hampanya rasa yang mendorong seorang untuk melahirkan karya yang bermanfaat bagi orang lain ataupun masyarakàt yang menjadi tanggung jawabnya.

Belakangan ini kehidupan masyarakat kita tidak hanya hampa dalam urusan cinta dan berkàrya. Namun, hubungan pergaulan  manusia sudah mulai ternodai oleh banyak pihak. Keharmonisan pergaulan menjadi urusan yang sangat sensitif  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa ataupun bernegara. Akhir-akhir ini juga mulai muncul tanda-tanda yang kurang kondusif. Lihatlah fakta di tengah keberagaman anak bangsa, di tengah kebhinekaan yang nyata di negeri tercinta ini, ada  yang mencoba menyalakan api untuk menyulut kebencian yang menimbulkan permusuhan dan pergolakan antar kelompok. Sehingga akan menimbulkan chaos.

Lihatlah dalam soal agama yang selama ini merupakan ranah privat yang sakral. Tetapi mengapa ada yang berani mencerca di depan publik tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, kasus pernyataan “Jangan mau dibohongi dengan al-maidah 51” masih dalam proses hukum, namun kasus tersebut belum tuntas, sudah muncul yang terbaru tatkala ulama menekankan keesaan Tuhan, di hadapan umatnya sendiri, “Bahwa Allah tidak punya anak dan tidak di peranakan.” Kalau Tuhan itu beranak, lantas siapa bidannya…?. Pernyataan ini justru dilaporkan oleh pemeluk agama lain, karena menurut mereka pernyataan  tersebut menistakan agama yang dianutnya. Apabila fakta ketidakharmonisan hubungan ummat beragama yang seperti ini dibiarkan berlarur-larut, maka akan dapat merusak harmoni dalam kehidupan  berbangsa dan bernegara yang pada akhirnya akan dapat memicu munculnya persoalan horizontal yang sangat merugikan masyarakat.

Kecuali ulama itu menjelekkan-jelekkan agama lain di hadapan pemeluknya. Akan tetapi faktanya kejadian di hadapan ummat Islam yang sedang mendalami akidah Islam! Ulama itu hanya dapat menegaskan keyakinan dan ini merupakan prinsip bahwa Allah tidak punya anak dan tidak pula di peranakkan!

Ini prinsip utama keesaan dalam Islam. Betapa ironinya jika seorang ulama menjelaskan  prinsip dasar akidah Islam di hadapan umat Islam lantas dengan tiba-tiba secara sepihak dilaporkan oleh umat yang beragama lain dengan tuduhan menistakan agama. Karena itu dalam urusan yang seperti ini pemerintah harus hadir dengan otoritas dan ketegasan dalam menegakkan pancasila sebagai nilai dasàr yang melandasi. Karena itu dalam konteks yang seperti ini bisa  dikatakan masih ada warga masyarakat yang gagal paham dalam memaknai toleransi umat beragama.

Apabila urusan yang seperti ini dibiarkan berlalu tanpa ada penanganan  yang serius, maka modus-modus yang seperti ini akan dapat merusak harmoni. Demikian pula rusaknya harmoni lebih banyak disebabkan  katena hilangnya rasa cinta pada diri seorang atau bahkan bisa dikatakan,“Matinya rasa cinta aka berakibat timbulnya disharmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Karena itu, ayo tumbihkan rasa cinta dengan saling memahami, menghormati dan menghargai sesama pemeluk agama, sesama warga negara. Cara ini diyakini akan menciptakan harmoni dalam kehidupan kita.

Cinta, kerja dan harmoni merupakan hasil refleksi mendalam terhadap kekuatan utama bangsa ini yang dirasakan semakin menghilang dari realitas kehidupan kita. Sekaligus pesan ini menjadi inspirasi dan spirit bahwa jika kita mampu menghadirkan cinta di hati kita, maka kerja- kerja nyata walaupun tidak ada jepretan kamera akan menjadi ringan dan akan memberikaan manfaat yang nyata dalam menyumbangkan  kesejahteraan dan kemaslahatan bagi orang banyak.

Apapun suku bangsa dan rasnya, apapun agama dan adàt istiadatnya, apapun yang sedang kita urusi harus terus dibingkai dengan spirit cinta, kerja nyata dan harmoni dalam menjalani kehidupan.

Semoga tulisan ini bermanfaat dalam membangkitkan kesaaran untuk bisa hidup lebih baik, lebih bermanfaat dan berkemajuan. Damailah Indonesiaku. Bahagialah bangsaku.

28 Desember 2016

 

*)Anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Sosok

Mbah Jony, Menjaga Tradisi Membuat Wayang dari Kertas Karton

Mbah Jony, Menjaga Tradisi Membuat Wayang dari Kertas Karton

Oleh Vera Astanti Lelaki yang sudah tak muda itu asyik melayani setiap permintaan dan pertanyaan dari anak-anak yang datang di ...

Quote

Ubahlah Pertanyaan Terhadap Anak-Anak Kita

Note From Kang Yoto

Ubahlah Pertanyaan Terhadap Anak-Anak Kita

Oleh Kang Yoto BERAPA lama lagi kita menunggu lahirnya generasi kuat lahir batin, sehat, cerdas dan produktif menciptakan nilai tambah, ...

Opini

Memperkenalkan Batik Bojonegoro di Queesland, Australia

Memperkenalkan Batik Bojonegoro di Queesland, Australia

Oleh Mashudi Sabtu kemarin, 11 Maret, saya menghadiri penyambutan mahasiswa pascasarjana penerima beasiswa LPDP yang kuliah di Queensland, Australia. Penyambutan ...

Eksis

Natasya, Penyuka Nasi Goreng yang Ingin Fokus Mengurus Anak

Natasya, Penyuka Nasi Goreng yang Ingin Fokus Mengurus Anak

Oleh Suci Novita Sari dan Vera Astanti Bisa masuk di jurusan Multimedia, Natasya merasa sangat bersyukur. Pasalnya dia memang menyenangi ...

Pelesir

Sambangi Wisata Banyu Langse Tuban

Sambangi Wisata Banyu Langse Tuban

Oleh Natasya dan Vera Astanti Tuban - Wisata alam Tuban memang banyak yang belum dieksplore. Kali ini tim BeritaBojonegoro.com pada ...

Religi

Kapolres Bojonegoro Ajak Anggota Jadikan Pekerjaan Sebagai Sarana Ibadah

Pos Sholat

Kapolres Bojonegoro Ajak Anggota Jadikan Pekerjaan Sebagai Sarana Ibadah

Oleh Heriyanto Bojonegoro Kota - Bertempat di Masjid Al-Ikhlas Polres Bojonegoro, pada Kamis (23/02/2017) mulai pukul 08.30 WIB pagi tadi, ...

Kegiatan Masyarakat Bojonegoro

Jumat, 24 Maret 2017

Berita Foto

Toyota Innova Seruduk Teras Rumah dan Motor Parkir di Ngraho

Berita Foto

Toyota Innova Seruduk Teras Rumah dan Motor Parkir di Ngraho

Oleh Heriyanto Ngraho - Dilaporkan sebuah mobil Toyota Kijang Innova nomor polisi DK 18 BK, pada Selasa (21/03/2017) sekira pukul ...

Infotorial

EMCL Selenggarakan Program Magang Siswa SMK di Lapangan Banyu Urip

EMCL Selenggarakan Program Magang Siswa SMK di Lapangan Banyu Urip

Oleh Heriyanto Bojonegoro ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerja sama dengan Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro (YKIB) menyelenggarakan program magang siswa SMK ...

Resensi

Kisah Saudagar Buku dari Kabul yang Malang

Kisah Saudagar Buku dari Kabul yang Malang

Oleh Heriyanto Buku ini berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga Afghan di Kabul, Sultan Khan sang kepala keluarga. Dia anak laki-laki ...

Feature

Belajar Demokrasi, Siswa SD Muda Latihan Pemilu

Belajar Demokrasi, Siswa SD Muda Latihan Pemilu

Oleh Vera Astanti Bojonegoro - Sekitar seratus anak begitu antusias ketika masing-masing pasangan calon bupati dan wakil bupati berganti membacakan ...

Teras

Awas, Monster Mengincar Anak-Anak Kita

Awas, Monster Mengincar Anak-Anak Kita

Oleh Vera Astanti Dunia maya digemparkan dengan pemberitaan telah terungkapnya grup facebook yang berisikan konten pornografi khusus anak di bawah ...