PAD Sektor Non-Migas
Industri Kreatif Harus Mulai Dikembangkan
Minggu, 20 September 2015 18:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Ngasem - Sunarsih didampingi anak lelakinya tampak sibuk menata kain batik dagangannya. Perempuan berjilbab itu mendirikan stand batik Jonegoroan di bumi perkemahan Ngasem, bersamaan dengan acara jambore perkemahan se-Kecamatan Ngasem.Selain Sunarsih, seorang perajin batik juga mendirikan kios serupa.
"Ini hasil batikan sendiri, Mas. Ya, semoga ada yang berminat," kata Sunarsih saat ditemui beritabojonegoro.com (BBC) di stand batik Jonegoroannya saat jambore perkemahan se-Kecamatan Ngasem di bumi perkemahan Ngasem, Minggu (20/09) siang.
Acara jambore perkemahan ini dilaksanakan sejak Sabtu (19/09) kemarin hingga Senin (21/09).
Lebih lanjut, dia mengatakan, sebelumnya rekan perajin lain juga sempat mengikuti beberapa event di Ibu Kota. Beberapa hal tersebut merupakan cara untuk mengenalkan batik Jonegoroan kepada khalayak ramai. Mereka adalah perajin batik dampingan Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos).
Ketua Ademos Kundhori, mengatakan, masyarakat Bojonegoro tidak bisa hanya mengandalkan sektor migas. Tetapi juga harus mulai mengembangkan produk-produk bernilai jual dari kreativitasnya. Terutama bagi kaum muda, baginya sungguh disayangkan jika ada yang berpikiran seluruh pengembangan diri mereka akan selesai jika sudah bekerja di industri Migas.
"Industri kreatif di Bojonegoro harus digarap secara serius. Karena untuk memperoleh PAD dari sektor ini masih sangat besar," papar Kundhori.
Pria asal ring-1 Blok Cepu itu menambahkan, salah satu ciri marketing produk industri kreatif adalah dengan memanfaatkan ruang terbuka hijau. Dan apa yang dilakukannya dengan para perajin batik binaannya saat ini telah masuk pada tahap itu. Karenanya dia berharap perhatian Pemkab terhadap industri kreatif harus ditingkatkan.
Sebagaimana diberitakan, merosotnya harga minyak dunia dari USD 60 menjadi USD 45 membuat masyarakat Bojonegoro cemas. Pasalnya hal itu membuat Dana Bagi Hasil (DBH) juga menurun drastis. Sebab itu Pemkab terancam gagal bayar dan beberapa proyek insfrastruktur harus diundur.
Dampak paling nyata adalah tidak terbayarnya pasokan listrik di Kecamatan Sekar, yang dialirkan dari kota tetangga, Madiun.
Melihat kondisi demikian sudah selayaknya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai melirik sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor non-migas. Sektor yang masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah industri kreatif. Seperti para perajin batik di Desa/Kecamatan Ngasem itu. (rul/tap)
*) Foto stan batik jonegoroan































.md.jpg)






