Kekeringan, Kebanjiran Order Air Bersih
Selasa, 22 September 2015 18:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Sumberrejo - Kekeringan yang menimpa sejumlah daerah di Bojonegoro selain menimbulkan penderitaan krisis air bersih, ternyata bisa mendatangkan rejeki bagi sebagian pihak. Hal itu sebaimana yang dapat ditemui di Dusun/ Desa Ngampal Kecamatan Sumberejo. Saat banyak warga yang sumurnya tidak lagi mengeluarkan air karena kekeringan, warga yang sumurnya masih bisa keluar air kebanjiran order.
Seperti yang terjadi pada Puguh (38) warga RT 04 RW 05 Dusun/ Desa Ngampal Kecamatan Sumberrejo. Dia menjelaskan, meski kini telah terjadi kemarau yang berkepanjangan, sumber sumur miliknya hingga kini belum habis. Pompa airnya masih kuat dan lancar mengeluarkan air. "Masih lancar dan arus air yang dikeluarkan juga deras," katanya.
Puguh melanjutkan, pengeboran sumber sumur yang dibuat sejak 2004 itu letaknya sangat strategis. Sumur milik Puguh mempunyai kedalaman 14 meter. Puguh mengaku, seperti di tahun - tahun sebelumnya, meski kemarau, sumurnya masih bisa menghasilkan air. "Karena itu, setiap kemarau pasti banyak warga yang membeli air ke saya," ujarnya kepada BBC, sebutan BeritaBojonegoro.com, hari ini, Selasa (22/09).
Masih kata Puguh, pembeli air bersih dari sumur miliknya tidak hanya dari warga Ngampal saja, melainkan dari desa lain. "Bahkan, dari desa di Kecamatan lain," katanya.
Puguh menjelaskan, dengan dibantu beberapa tenaga, dia juga mengirim air ke sejumlah desa yang mengalami krisis air dengan menggunakan truk. Seperti ke Desa Balongcabe, Brambang di Kecamatan Kedungadem, serta Desa Wedoro di Kecamatan Sugihwaras.
Salah satu tenaga pembantu Puguh, Suwaji (32), menjelaskan bahwa air yang dibawa menggunakan truk ke daerah daerah krisis air itu pasti habis, bahkan kurang. Masih banyak di antara mereka yang tidak kebagian air. Hal itu menyebabkan banyak di antara mereka yang datang sendiri ke Ngampal untuk membeli air di tempat Puguh.
"Air yang saya kirim ke daerah krisis menggunakan truk itu perjerigennya seharga Rp 2000. Harganya lebih mahal karena melalui proses pengiriman. Kalau datang ke lokasi sini ya lebih murah," terangnya.
Suwaji melanjutkan, dalam sehari dia mengirim bahkan hingga 4 truk yang tersebar di kawasan-kawasan krisis air. Setiap truk bisa memuat sebanyak 200 jerigen air.
Suwaji menambahkan, bahkan ada tengkulak yang datang membawa truk setiap harinya. Saking banyaknya dan terbatasnya peralatan pompa air, mereka terpaksa mengantri. "Setiap hari, mulai pagi bahkan sampai malam, banyak truk tengkulak dan para warga berdatangan. Sangat laris. Perharinya mencapai 1500 sampai 2000 jerigen air yang terjual," pungkas Suwaji. (ori/moha)































.md.jpg)






