Mengunjungi Kebun Jambu di Mayanggeneng
Yang Penting Air Tetap terjaga
Rabu, 23 September 2015 20:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Beberapa daerah di Bojonegoro memang mengalami kekeringan. Namun Agro Wisata Jambu Getas Merah di Mayanggeneng ini tetap berproduksi. Agrowisata yang terletak di Desa Mayanggeneng Kecamatan Kalitidu ini dimiliki oleh Ali, mantan supir salah satu perusahaan permen.
Kebun seluas 3,4 hektar ini ditanami sebanyak 350 pohon jambu getas merah. Mulanya Ali mendapatkan bibit dari kakaknya yang sudah berinvestasi jambu merah lebih dulu, di Kendal, Jawa Tengah. Mulanya Ali menanam sebanyak 50 pohon saja yang kemudian dikembangkan sendiri dengan metode cangkok.
"Awalnya di sini itu tanahnya tandus dan gersang. Susah untuk ditanami padi. Saya mencoba dengan jambu merah ini. Namun sebelumnya harus mengecek sumber airnya," kata Ali saat ditemui di kebun jambunya oleh BBC, sebutan beritaBojonegoro.com.
Ali memiliki sumber air sendiri dan sudah menggunakan diesel untuk mengalirkan air ke seluruh kebunnya. Dengan disambung paralon dan plastik, segala penjuru lahan di kebun bisa diairi. Pengairan ini dilakukan sebanyak dua kali seminggu.
Metode tanam Jambu Merah milik Ali ini menggunakan guludan tanah, yaitu pohon ditanam pada tumpukan tanah yang dibuat sepanjang menurut arah garis kontur. Di tengah kebun dibikin kolam ikan lele. Selain itu air kolam ini bisa dibikin pupuk organik. Selain dari kolam itu, Ali menggunakan telethong (kotoran sapi) sebagai pupuknya.
"Guludan ini berfungsi agar pada saat musim hujan, serabut akar tidak membusuk. Dan saat musim kemarau, konsumsi air tetap terjaga. Walaupun saat musim kemarau seperti ini, ukuran buahnya relatif lebih kecil. Tetapi pohon jambu tetap berproduksi," jelasnya.
Karena itu, Ali menyayangkan pembagian bibit dari Dinas Pertanian yang saat ini harus mati karena pengairannya kurang. Saat ini kebunnya bisa menghasilkan satu ton tiap bulannya. Pada saat panen raya nanti, sekitar bulan Oktober sampai Desember, Ali mengaku, bisa dapat lebih. Karena itu untuk mengantisipasi buah yang berlebih, Ali mengolah jambu menjadi aneka makanan, selain dijual dalam rupa buah. Jambu bisa diolah menjadi beberapa jenis jajanan seperti roti kukus, donat, dodol, agar-agar, sirup, putu ayu, kerupuk dan jus.
Saat ini, jambu milik Ali, dipatok dengan harga Rp 8.000/ kg. Namun Ali membebaskan pengunjung untuk mencoba buah jambu di tempat. Di kebun disediakan gazebo yang luas yang bisa digunakan untuk beristirahat dan nongkrong. Gazebo dibuat agar pengunjung bisa nyaman berada di kebun. Selain itu, Ali juga menyediakan kamar mandi untuk para pengunjung.
Di timur kebun jambu, terdapat sendang yang bernama Sendang Gandu. “Waktu bulan puasa, banyak yang nongkrong di sini dan mampir ke Sendang Gandu untuk ngadem (mencari suasana dingin),” jelas Ali.
Nampak beberapa orang yang juga sedang mengunjungi kebun jambu, saat kedatangan BBC. Mereka nampak nyaman memilih-milih jambu sendiri.
Salah satu pengunjung, Winda, mengaku senang dengan suasana kebun yang sejuk. “Jambunya manis,enak, segar. Suasananya enak. Adem di sini. Pak Alinya juga ramah sama pengunjung,” katanya. (ver/moha)


































.md.jpg)






