Kambing Belum Laku, Pedagang Mulai Banting Harga
Kamis, 24 September 2015 16:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Kapas - Maksud hati untung besar, apa daya kambing kurban belum laku dijual. Pepatah ini mungkin sedang dirasakan para pedagang kambing kurban di wilayah Bojonegoro. Sebab, hingga masuk hari pertama Idul Adha, beberapa lapak pedagang kambing di sejumlah tempat tampak masih banyak tersisa. Alhasil, padagang pun berancang-ancang banting harga saat memasuki tiga hari tasyrik berikutnya.
Menurut pedagang, kalau tidak banting harga, kambing tidak akan laku. Kalau tidak laku, mereka bisa berubah menjadi peternak kambing. Padahal, kebanyakan mereka itu hanya kulakan kambing. Mereka jelas kelabakan kalau kambing tidak terjual. Karena untuk merawatnya butuh biaya yang tidak sedikit.
Dari pantauan di lapangan, mulai pagi tadi usai salat Id, sejumlah pedagang mulai menurunkan harga. Kambing yang sebelum hari raya dibandrol Rp 2 juta, harus turun menjadi Rp 1,8 juta hingga Rp 1,7 juta. selisih penurunannya sekitar Rp 200 ribu. Besok pada hari tasyrik harga akan terus menurun.
Seperti yang diungkapkan penjual kambing, Lasto (51), warga RT 18 RW 02 Dusun Kalipang, Desa Sukowati, Kecamatan Kapas. Dia menuturkan, saat ini sediaan kambing di lapaknya masih tersisa banyak. Hingga hari raya pagi tadi, dia hanya mampu menjual 5 ekor. Padahal dia kulakan sejak Agustus sebanyak 15 ekor.
"Saya siapkan 15 ekor, sampai saat ini baru 5 ekor yang terjual. Sejak pagi tadi, kambing saya bandrol dengan harga lebih murah dari sebelum hari raya. Namun, penjualan masih saja seret. Saya banting harga hingga Rp 1,5 juta, itu sudah sangat murah, Mas," terangnya saat ditemui BBC sapaan beritabojonegoro.com, Kamis (24/09) siang.
Kalau tetap tidak laku, imbuh Lasto, dirinya harus siap-siap mengeluarkan biaya tambahan untuk pakan. Nanti dia pun harus memosisikan diri sebagai peternak, peluang yang semestinya menjadi pekerjaan sampingan itu justru malah menjadi pekerjaan tetap.
"Tapi saya optimis, dalam tiga hari kedepan, kambing kurbannya bisa laku. Karena menurut pengalaman, pada ketiga hari tasyrik itu biasanya masih ada pembeli. Tapi strateginya ya harga mesti diturunkan. Kalau ndak untung, minimal ya biar bisa balik modal," harapnya.
Hal yang sama dikeluhkan Sumadi (48), pedagang kambing lainnya. Dia mengatakan, hingga hari raya kambingnya masih tersisa separo. Jumlah penjualan itu dirasa masih kurang, karena belum balik modal.
"Tahun lalu, saat Idul Adha kambing kurban saya terjual habis. Tapi tahun ini kelihatannya seret. Mungkin tahun ini banyak penjual luar daerah seperti Babat dan Lamongan yang turut menjual kambingnya di Bojonegoro," ungkapnya.
Sumadi melanjutkan, jika kambing miliknya tidak habis sampai hari ketiga idul kurban, nanti dia akan menjualnya ke pasar. "Soal laku ya pasti laku, tapi harganya ya murah. Untuk mengurangi kerugian Mas," pungkasnya. (ori/tap)
*) Foto pedagang kambing


































.md.jpg)






