Cuaca Tidak Menentu, Hasil Panen Salak Menurun
Sabtu, 26 September 2015 20:00 WIBOleh Mujamil E. Wahyudi
Oleh Mujamil E Wahyudi
Kapas - Imbas dari kekeringan atau tidak seimbangnya cuaca di Bojonegoro, ternyata tidak hanya dirasakan petani cabai, tomat dan lain - lain. Namun juga berimbas kepada petani salak di Desa Wedi RT 01 RW 01 Kecamatan Kapas Bojonegoro.
Imbas dari cuaca buruk ini, menjadikan hasil produksi salak wedi sebutan salak di Desa Wedi itu menurun. Hasil dari pantauan BeritaBojonegoro.com (BBC) di lokasi, memang terlihat banyak pohon salak yang buahnya kecil-kecil dan daun pohon salak juga banyak yang kering.
Salah seorang petani salak asal Desa Wedi, Kanafi (60), mengungkapkan, faktor utama dari penurunan hasil panen ini disebabkan oleh cuaca yang tidak mendukung. Pasalnya, cuaca saat ini tidak bisa ditebak seperti cuaca dulu yang bisa ditebak. Sehingga petani bisa memprediksi kapan turun hujan dan kapan tidak turun hujan.
"Kalau cuaca dulu itu kan bisa ditebak mas, tapi cuaca sekarang susah untuk ditebak. Kadang kita prediksi bulan tertentu hujan, namun pada kenyataannya tidak turun hujan. Diprediksi hujan, namun hujannya berlebihan atau banjir, Akibatnya pohon buahnya tidak maksimal," ujarnya sembari duduk di kursi sambil menghisap rokok, Sabtu (26/09).
Lanjut pria bercucu tujuh ini, memang di Bojonegoro ini terkadang panasnya berlebihan. Jadi, panasnya sangat terasa di kulit. Entah apa penyebabnya. Kemudian saat musim hujan juga begitu, justru malah banjir. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan hasil panen menurun.
"Memang di sini sudah ada saluran air. Namun saat musim kemarau ini tidak ada airnya," ungkapnya dengan penuh kecemasan.
Istri Kanafi, Hanifah (55), menambahkan, saat musim kemarau ini hasil panennya menurun sebab tidak ada air, baik air hujan maupun air dari saluran air atau kali. Jadi, di musim seperti ini, hasil panennya hanya sedikit, hanya 115 biji, dibandingkan dengan musim hujan atau cukup air.
"Kalau di musim hujan, kemudian tidak banjir, maka hasil panen kami lebih banyak. Hingga 500 biji," tambahya sembari mengamati buah salak dikebunnya itu.
Walaupun kebun milik pak kanafi dan istrinya ini tidak begitu luas, 40 meter kali 28 meter, namun dapat bermanfaat untuk tetangga sekitar khususnya untuk keluarga. Jadi kalau ada tetangga sekitar yang mau mengambil untuk mencicipi salaknya, mereka mempersilakan dengan sukarela.
Lanjut ibu berjilbab ini, di musim kemarau ini pohon salaknya memang berbuah, namun tidak maksimal. Lalu bagaimana dengan pemasarannya ? Hanifah menjawab, untuk pemasarannya tidak terlalu sulit karena dijual kepada tengkulak yang biasa datang di pertigaan barat rumahnya. Untuk harganya, menyesuaikan dengan barang atau besar kecil buahnya.(yud/moha)


































.md.jpg)






