Sandur, Dirindukan dan Dijaga Agar Tak Punah
Selasa, 29 September 2015 22:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Kota - Komunitas Sandur Kembang Desa menggelar pertunjukan sandur malam ini, Selasa (29/09) di Desa Mulyoagung, Kecamatan Bojonegoro. Ratusan warga desa tersebut dan sekitarnya tumpah ruah menyaksikan pertunjukan seni asli Bojonegoro itu.
Pertunjukan seni ini digelar untuk memeriahkan hajatan pernikahan Mukarom, salah satu aktor KSKD, yang asli warga desa tersebut. KSKD merupakan kelompok kesenian sandur yang bernaung di sanggar Sayap Jendela.
Dimulai pukul 20.00 WIB, di depan rumah Mukarom, Gg. Singayudha desa setempat. Sandur dengan lakon "Pethak Njalok Rabi" tersebut disaksikan oleh lebih dari dua ratus warga yang terdiri dari orangtua, remaja, hingga anak-anak, baik dari luar maupun dari Mulyoagung sendiri.
Salah satu penonton, Tasripah (47), warga setempat, mengatakan bahwa Sandur masih menjadi salah satu kesenian yang dirindukan oleh masyarakat. Ia mengaku sudah menikmati pertunjukan Sandur sejak ia masih gadis.
Sandur tempo dulu dengan yang sekarang, menurut perempuan asli Parengan (Tuban) tersebut, memiliki banyak perbedaan. Perbedaan itu, kata Tasripah, misalnya terletak pada lelakonan dan bahasa yang dibawakan. Ia menunjukkan dalam syair lagu pengiring terdapat kata-kata yang dahulu adalah "sorak hore" kini diganti dengan syair "asik-asik jos".
"Tokoh-tokohnya tetap sama. Ada Cawik, Pethak, Balong, lan Tangsil. Hanya tari dan lagunya saja yang berubah menjadi lebih modern," imbuh Tasripah dengan bahasa Jawa halus kepada BBC disela-sela menikmati sandur.
Hal itu dibenarkan oleh Mamik, salah satu anggota KSKD. Mamik menjelaskan bahwa sandur sekarang dikemas menjadi lebih modern. Misalnya, pada rangkaian yang menitikberatkan pada ritual yang melibatkan kekuatan magis, atau biasa dikenal ndadi, dihilangkan sebagian.
"Tanpa mengurangi makna sandur sendiri, hal tersebut hanya sebagai upaya agar anak-anak muda bersedia memainkan dan menjaga salah satu budaya Bojonegoro yang hampir punah ini," ujar Mamik kepada BBC.
Pertunjukan Sandur tersebut berakhir pukul 22.00 WIB yang ditutup dengan atraksi kalongking. Yakni aksi memanjat bambu dan tali sepanjang lima meter, kemudian berjumpalitan pada tali tersebut dan mengambil ketupat hingga turun kembali ke tanah. (lyn/moha)
Foto Sandur sedang digelar di Mulyoagung


































.md.jpg)






