Petani; Harga Tembakau Jeblok, Pemerintah Harus Beri Solusi
Rabu, 30 September 2015 12:00 WIBOleh Mujamil E. Wahyudi
Oleh Mujamil E Wahyudi
Kota - Sampai saat ini, harga tembakau masih menjadi keluhan para petani di beberapa desa di Bojonegoro. Seperti petani di Desa Sumberwangi, Kecamatan Kanor, mereka mengeluhkan harga tembakau yang saat ini jeblok. padahal tahun lalu, harga cukup mahal.
Hal tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk memberikan solusi dan terobosan agar para petani tembakau tersebut tidak merasa dirugikan akibat jebloknya harga tembakau dan minimnya hasil rajangan tembakau yang bisa diserap pabrik.
Salah satu petani tembakau, Marti (45), mengatakan bahwa harga tembakau saat ini mengalami penurunan yang sangat drastis atau jeblok dibandingkan harga tahun tahun lalu. Ia menambahkan, tahun lalu, perkilonya, harga tembakau Rp 25.000 untuk kualitas bagus dan Rp 20.000 untuk yang biasa. Namun sekarang harga menjadi Rp 13.000 untuk kualitas bagus dan Rp 6.000 untuk yang biasa.
"Harga tahun tembakau sekarang ini jeblok. Kalau seperti ini terus, petani tembakau ya akan rugi. Dalam hal ini, seharusnya pemerintah harus sigap untuk mengobati keresahan kami," ujarnya sembari mengusap keringat di wajahnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh petani di Desa Sedeng, juga Kecamatan Kanor. Salah seorang petani, Parno (50), menambahkan, memang tahun ini seolah petani di desanya merasa resah dengan turunnya harga tembakau ini. Sehingga petani di sini merasa malas untuk memetik tembakaunya di sawah. Ia menambahkan, tahun lalu tidak seperti ini, entah apa penyebabnya.
"Saya juga tidak tahu, apa penyebab harga tembakau menurun drastis. Jika seperti ini terus kami mau makan apa? Karena memang hidup saya menggantungkan hasil panen di sawah," ungkapnya dengan nada sedih.
Seperti diketahui, keresahan petani tembakau di Bojonegoro ini tidak hanya dirasakan oleh petani dua desa tersebut. Namun juga oleh para petani asal Desa/ Kecamatan Sugihwaras yang tidak mau memetik tembakaunya di sawah beberapa waktu lalu dengan persolan yang sama. Yakni, mengenai jebloknya harga tembakau.
Keresahan para petani tembakau ini bahkan tidak hanya sampai di sini. Tetapi tembakau rajangan petani juga tidak banyak diserap oleh pabrikan. Hal itu seperti apa yang dialami oleh petani Desa Kepohbaru, Kecamatan Baureno. Di desa tersebut ada petani yang terpaksa menyimpan tembakau rajangannya di rumah yang disebabkan begitu ketatnya seleksi kualitas tembakau di pabrikan.
Di Desa Kauman Kecamatan Baureno juga sama, petani mengeluhkan ketatnya seleksi kualitas tembaku di pabrikan. Akibatnya tembakau hasil rajangannya ditimbun dan menganggur di rumah. Tentunya persoalan tersebut menjadi perhatian lebih bagi pemerintah untuk meredakan keresahan-keresahan petani tembakau saat ini. (yud/moha)


































.md.jpg)






