Menyapa Mak Jah, Warga Desa Gunungsari, Baureno
Gadaikan Sertifikat Tanah, Bertekad Tekuni Usaha Anyaman Bambu
Sabtu, 03 Oktober 2015 07:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Baureno - Meski banyak orang yang takut jika harus menggadaikan barang yang dimilikinya untuk digunakan usaha, namun tidak begitu bagi Mak Jah. Tekadnya kuat ingin jadi pengusaha anyaman bamboo (sesek). Hingga akhirnya karena tidak ada biaya, Mak Jah nekat menggadaikan sertifikat tanah miliknya di salah satu koperasi. Meski usahanya itu hingga kini kurang berkembang, Mak Jah tetap bertahan dan menyukuri setiap keuntungan yang diperolehanya. Memang tak seberapa, setidaknya usahanya itu cukup untuk kebutuhannya sendiri yang telah sekian lama menjanda. Tinggalah Mak Jah sendiri di rumahnya, karena kedua anaknya kini sudah berumah tangga.
"Saya menggadaikan sertifikat tanah saya dulu senilai Rp10 juta untuk modal awal usaha,” ujar Mak Jah, ditemui BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, Sabtu (03/10).
Mak Jah adalah sapaan sehari-hari Khotidjah (65). Ia mengaku sudah sekitar 25 tahunan menekuni usaha anyaman bambu itu. Memang rumahnya yang terletak di utara jalan raya Bojonegoro - Babat Dusun Desa Gunungsari Kecamatan Baureno itu banyak tumbuh pohon bambu. Namun, kata Mak Jah, itu bukan miliknya. Untuk membuat sesek pun ia harus membeli bambu dari tetangganya.
"Di samping kanan kiri belakang rumah saya juga pohon bambu, tapi itu milik tetangga, per bijinya saya membeli bambu Rp 20.000" tuturnya.
Mak Jah menerangkan, soal laku atau tidak bagi Mak Jah itu urusan belakang tetapi yang mesti diutamakan adalah berusaha dan mencoba. Pembeli sesek yang tak pasti membuat Mak Jah harus bersabar, meski terkadang seseknya menumpuk seperti yang Mak Jah alami saat ini.
"Kebanyakakan pemesan digunakan tambak, karena sekarang sulit air jadi jarang orang yang membutuhkan sesek untuk membuat tambak" keluhnya serambi menata tumpukan sesek di halaman rumahnya.
Soal harga Mak Jah menerangkan, sesek ukuran 1 meter x 3 meter dibanderol dengan harga Rp 35.000 untuk ukuran 3 meter x 1 meter setengah harganya Rp 55.000. "Sedangkan yang besar dengan ukuran 3 meter x 2 meter saya beri harga Rp65 000" imbuhnya.
Jika penjualan seseknya sepi seperti yang saat ini Mak Jah alami, ibu dua anak ini hanya bersandar dari hasil warung kopinya. Warung yang beberapa tahun lalu dibuat dari dana hasil jualan sesek itu menjawab solusi saat seret jarang pemesan.
"Meski seret saya juga tetap memproduksi sedapatnya sambil jaga warung, yang penting saya tak meninggalkan usaha yang sudah lama saya rintis sendiri ini" pungkasny. (ori/kik)


































.md.jpg)






