Pawai Budaya Jadi Berkah Para Penjual Dadakan
Sabtu, 03 Oktober 2015 14:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Kota - Kemeriahan pawai budaya dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro Ke-338 tidak hanya muncul dari kreativitas peserta karnaval. Namun juga diwarnai rupa-rupa penjual yang turut mengais berkah pawai tersebut.
Sejak pagi, puluhan penjual dadakan sudah sibuk menata lapak. Lapak sederhana dibuka dan ditata sedemikian rupa. Ada yang memakai meja, rombong, gerobak, bahkan lesehan. Para penjual tersebut ada yang menjual makanan, minuman, jajanan mulai dari yang sederhana hingga yang memerlukan keahlian khusus, buah segar hingga mainan anak-anak.
Sri Puji (41), salah satu pedagang asal Kelurahan Klangon, turut serta menggelar lapak dadakan di kawasan Jalan Teuku Umar, salah satu jalur rute pawai. Perempuan yang sehari-hari berjualan di kantin Stikes Icsada itu pagi tadi membuka lapak dengan meja yang dibawanya dari rumah.
"Tadi diangkut naik becak kesini," ujarnya kepada BBC.
Sri Puji mengungkapkan, dirinya baru kali ini ikut membuka lapak dalam acara Hari Jadi Bojonegoro. Ia mengaku, sampai tadi malam pun tidak mempunyai rencana untuk berjualan di Jalan Teuku Umar seperti saat ini, Sabtu (03/10).
Keinginan untuk membuka lapak baru datang tadi pagi kala ia lewat seputar Jalan Teuku Umar. Kemudain melihat ada banyak peluang untuk para penjual mengais berkah pawai budaya setahun sekali itu.
"Sebelumnya hendak menjajakan di stan BTPN, tetapi saya ingin mencoba peluang di sini," kata perempuan yang juga aktif mengelola home industri itu.
Rupanya, yang dilakukan Sri Puji ini, adalah salah satu ilmu dalam menerjuni dunia usaha. Para penjual harus pandai membaca peluang dan kesempatan, setelah itu berani mengambil resiko. Dengan modal Rp 200 ribu, ia berjualan snack, minuman, jus, dan buah segar.
Semakin siang penonton yang berdesakan pun mulai tergiur untuk menikmati segarnya jus dan buah dagangan Sri Puji. (lyn/tap)
*) Foto para penjual dadakan


































.md.jpg)






