Mbah Dono Menunggu Janji Penanganan Kali Gandong yang Longsor
Kamis, 08 Oktober 2015 09:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Purwosari – Janji Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mau membantu warga di Dusun Korgan, Desa/Kecamatan Purwosari, yang terkena dampak longsor Kali Gandong ternyata hanya isapan jempol belaka. Buktinya, berkali-kali dijanjikan akan membantu menangani tebing Kali Gandong yang longsor parah itu ternyata sampai kini juga belum dibuktikan.
Hal itu dikeluhkan oleh Mbah Dono, 69, warga Dusun Korgan, Desa Purwosari. Tanah dan rumahnya amblas terseret longsor Kali Gandong pada musim hujan 2014-2015. Tebing Kali Gandong longsor sepanjang 450 meter dengan lebar 50 meter dan kedalaman 20 meter. Mbah Dono sudah mengungsi sejak musim hujan lalu ke rumah anaknya di Desa Punggur, Kecamatan Purwosari.
Begitu pula rumah Mbah Marem, 67, juga nyaris terseret longsor. Mbah Marem dengan biaya sendiri memindahkan dan membangun rumahnya. Berkali-kali petugas dari desa, kecamatan, dinas pengairan, kepolisian, datang ke lokasi kejadian. Mereka hanya melihat dan berjanji akan membantu menangani musibah longsor itu, tetapi tak kunjung terbukti.
Menurut Mbah Dono, ia sudah menemui langsung Bupati Bojonegoro, Suyoto, saat acara dialog public hari Jumat beberapa bulan lalu. Kemudian, ia datang lagi ke Pendapa Pemkab Bojonegoro bermaksud menemui Kang Yoto, sapaan Suyoto, bermaksud menanyakan soal rencana penanganan Kali Gandong yang longsor parah itu. Tetapi, ia tidak berhasil menemui.
“Saya hanya ditemui asisten bupati. Katanya lagi ada menteri yang datang sehingga tidak bisa menemui,” ujar Mbah Dono saat ditemui BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, Kamis (08/10).
Mbah Dono mengaku, tanahnya selebar 12 meter x 15 meter sudah amblas terseret longsor. Ia kini sudah tidak punya rumah lagi. Selain Mbah Dono dan Mbah Marem, sekitar 12 rumah lainnya di dekat Kali Gandong itu juga terancam terseret longsor saat musim hujan tiba nanti.
“Dulu katanya saat musim kemarau, penanganan Kali Gandong yang longsor itu akan dikerjakan. Namun buktinya tidak pengerjaan apa-apa. Cuma janji-janji saja,” ujarnya.
Ia menuturkan, sebenarnya ia tidak meminta agar tebing Kali Gandong itu diplengseng karena jelas biayanya akan banyak. Namun, ia hanya berharap dasar Kali Gandong itu dikeduk agar airnya nanti bisa mengalir lancar saat musim hujan. Selain itu, di sepanjang tebing yang longsor itu ditancapi trucuk atau paku bumi. Dengan begitu, air tidak langsung melimpas mengenai tebing yang longsor karena akan terus melebar tetapi akan mengenai trucuk atau paku bumi tersebut.
Sementara itu menurut Mbah Marem, ia mengaku sudah pasrah dengan musibah longsor yang dialaminya. Ia tidak mau terlalu berharap pada pemerintah. Baginya, pemerintah itu ada saat mereka menarik pajak bumi dan bangunan. Tetapi, pada saat dia membutuhkan pertolongan atau bantuan, pemerintah seolah tidak ada. “Lebih baik, saya berusaha sendiri untuk mengatasi keadaan yang saya alami,” ucap Mbah Marem lirih.
Mbah Marem, seorang janda tua ini setiap hari bekerja keras berdagang di Pasar Tobo Purwosari. Ia membangun sendiri rumahnya dengan dibantu anak-anaknya. Kini, ia menempati rumah berdinding kayu berukuran kecil. Namun, jarak rumah itu dengan tebing Kali Gandong yang longsor juga hanya sekitar tujuh meter. (rul/kik)


































.md.jpg)






