Keripik Sekar, Rasanya Maknyus, Tembus Pasar Luar Bojonegoro
Selasa, 30 Januari 2018 10:00 WIBOleh Muliyanto
Oleh Muliyanto
Bojonegoro - Siapa tak kenal dengan kudapan satu ini, keripik singkong meski termasuk makanan tempo dulu namun tak lekang oleh zaman. Bahkan keripik singkong kini bermetamorfosa menjelma menjadi cemilan kekinian dengan rasa yang sudah mendunia mulai rasa balado, sapi panggang, jagung bakar, jagung manis serta tentunya cita rasa original masih disediakan untuk mereka yang menyukai rasa klasik. Salah satu perajin makanan ringan ini adalah Yuli warga Desa Bobol Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, yang mengolah singkong menjadi keripik dengan aneka rasa.

Bahkan beberapa waktu yang lalu Bupati Bojonegoro, Suyoto, yang akrab dengan panggilan Kang Yoto ini mengunjungi langsung pembuat keripik sekar yang menggunakan merk keripik cinta ini. Kang Yoto tak hanya melihat namun mencicipi langsung keripik yang baru saja digoreng. Kang Yoto bahkan dalam beberapa kesempatan salah satunya saat menerima kunjungan Kepala BNPB Pusat mempromosikan keripik Sekar ini sebagai keripik terenak di dunia. Kala itu Kang Yoto menuturkan, keripik sekar ini tak hanya renyah, namun rasanya mengingatkan akan rasa keripik di zaman dahulu saat ia masih kecil.
Tak berselang lama Kepala BNPB juga mencicipi dan setuju dengan apa yang disampaikan Kang Yoto. Keripik ini renyah dan rasa bawang serta asinnya sangat cocok di lidah kaum tua karena aman tidak mengandung bahan lain.
Pasangan Purwo dan Yuli, pembuat keripik singkong, menuturkan bahwa salah satu kunci dari kerenyahan dan kenikmatan keripik yang diproduksinya adalah terletak dari bahan yakni singkong yang digunakan adalah singkong pilihan. Yakni singkong yang ditanam lebih dari 6 bulan dan tanahnya subur serta berkontur pasir. Biasanya singkong yang ditanam di daerah bertanah merah dan ada kandungan pasirnya itu bisa dibilang “medug” jika direbus dan ketika digoreng rasanya renyah.
Yuli menuturkan, saat ini dirinya mampu memproduksi 2,5 kuintal sampai 3 kuintal singkong mentah untuk diolah menjadi keripik singkong. Jika dulu dirinya hanya sendiri bersama suami ketika mengerjakan pembuatan keripik singkong kini dirinya sudah memiliki 14 pekerja utamanya kaum ibu dan remaja putri. Kini dengan unit produksi dirinya setidaknya mampu menyediakan lapangan kerja bagi kaum ibu di sekitar tempat tinggalnya. Saat ini keripik singkong produksinya sudah merambah wilayah Surabaya jika dulu hanya Bojonegoro, Madiun, Ponorogo kini keripiknya sudah mulai dikenal dan diminati oleh banyak pihak. Mengikuti tren pasar, lanjut Yuli, dirinya mulai membuat keripik singkong dengan aneka rasa yang disukai remaja dan pasar semisal rasa balado, sapi panggang dan lain sebagainya. (mol/kik)


































.md.jpg)






