Harga Cabai Jeblok Bikin Petani Malas Petik
Sabtu, 17 Oktober 2015 22:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Balen - Harga cabai kian anjok. Tiap minggunya terus mengalami penurunan. Di awal musim kemarau dulu, sempat menembus Rp 30.000 perkilogramnya. Namun itu tidak bertahan lama. Sangat jauh jika dibandingkan dengan harga saat ini yang bahkan hanya Rp 3.000 per kilogramnya.
Jebloknya harga cabai itu membuat sejumlah petani jadi malas. Mereka enggan merawat tanaman cabai di lahan sawahnya meski sudah saatnya panen.
Seperti yang dialami seorang petani cabai di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen, Subiantoro (42). Di lahan seluas seperempat hektar miliknya, tanaman cabainya tumbuh subur. Di musim panenan yang ketiga ini, tampak cabainya rimbun dan warnanya sudah memerah. Namun, ternyata itu tak menggugah gairah Subiantoro untuk memetik. Bahkan, ada diantaranya yang sudah berwarna kecoklatan nyaris busuk.
"Sudah waktunya panen, tapi malas memetik, Mas," katanya saat ditemui BBC, sebutan BeritaBojonegoro.com, sore tadi, Sabtu, (17/10).
Subiantoro melanjutkan, dia tidak mau membuang tenaga dengan hasil yang tak sebanding dengan keringat yang dia kucurkan. Kini dia lebih memilih mengurus tanaman lain yang lebih menguntungkan baginya.
"Pilih mengurus tanaman bawang merah saja, daripada memetik cabai dengan hasil yang tak sebanding," jelasnya.
Serupa dengan yang dijumpai di Balenrejo, di Desa Pilanggede juga sama. Tanaman cabai para petani sudah siap petik meski kondisinya tak terawat. Rumput - rumput tumbuh berkeliaran disela - sela tanaman cabai. Pemiliknya, Dasuki (45), mangatakan bahwa dia tak menggubris kondisi itu.
"Soalnya, harganya jeblok, Mas. Cabai panjang ini cuma Rp 3.000 per kilogram. Saya juga tidak mengetahui penyebab pasti terkait rusaknya harga lombok ini,"katanya dengan kesal. (ori/moha)


































.md.jpg)






