Serangan Hama Tikus
Petani di Balen Gropyok Tikus dengan Emposan Asap Belerang
Senin, 26 Oktober 2015 12:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Balen - Hama tikus sawah di areal pertanian Desa Kedung Dowo dan Desa Prambatan, Kecamatan Balen, sudah meresahkan para petani setempat. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengendalikan serangan hama tikus sawah. Namun, jumlah populasi tikus sawah terus bertambah. Kondisi itu jelas mengancam pertumbuhan tanaman padi di wilayah tersebut.
Senin (26/10) pagi tadi, puluhan anggota kelompok tani Desa Kedung Dowo dan Desa Prambatan melakukan kegiatan gropyokan tikus di lahan pertanian dua desa tersebut. Kegiatan gotong royong ini dimaksudkan untuk mengendalikan populasi hama tikus sawah.
Pagi itu, puluhan petani membawa alat pemukul, cangkul, dan emposan tikus. Mereka ada yang mencari lubang tikus, kemudian menggalinya, dan yang lain langsung mengemposkan asap belerang ke liang yang digali itu. Kegiatan gropyokan ini dilakukan setelah panen hingga persemaian benih untuk masa tanam mendatang.
Alat emposan menjadi penentu dalam kegiatan gropyokan Senin pagi itu. Alat emposan itu alat untuk mengasap lubang sarang tikus sehingga tikus keluar dari lubang, kemudian dipukul beramai-ramai oleh petani peserta gropyokan. Asap muncul dari belerang yang dibakar.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 sampai pukul 10.00 WIB itu juga dihadiri Camat Balen, Kepala UPTD Dinas Pertanian Balen, anggota kelompok tani Desa Kedung Dowo dan Prambatan. Selain itu tampak hadir anggota TNI dan Polisi pendamping program Upsus Pajale (upaya khusus peningkatan hasil pertanian padi, jagung dan kedelai) Dinas Pertanian Bojonegoro.
Dalam arahannya, Camat Balen Kasiyanto, mengatakan, agenda gropyokan sebaiknya jangan hanya dilaksanakan sekali ini saja. Perlu dijadwalkan rutin, karena perkembangbiakan tikus itu sangat cepat.
"Selain efektif mengendalikan populasi hama tikus, kegiatan gropyokan itu juga bisa menciptakan sebuah hubungan harmonis, guyup rukun, dan gotong-royong antar warga," ujarnya.
Rencananya kegiatan gropyokan itu akan dilanjutkan pada Selasa (27/10) besok dan Jumat (30/10) depan. Khusus pada Jumat depan gropyokan akan menggunakan rancuming. Rancuming itu racun tikus jenis Rodensida nanti dicampur dengan umpan beras atau dedak, lalu diumpankan di lubang-lubang sarang tikus.
Perkembangbiakan tikus sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama ketersediaan makanan. Pada daerah dengan musim hujan dan musim kemarau yang tidak banyak berbeda sepanjang tahun, dan tersedianya makanan tidak juga berbeda, kepadatan populasi tikus biasanya stabil.
Tikus yang kelaparan akan memakan hampir semua benda yang dijumpai, lain halnya bila ketersediaan makanan cukup, tikus akan memilih makanan yang paling disukai yaitu padi bunting, padi menguning dan jagung muda. Disamping itu tikus juga menyukai ubi kayu, ubi jalar, tebu dan kelapa.
Pada tanaman padi, kerusakan karena serangan tikus terjadi akibat batang padi digigit atau dipotong. Seekor tikus dapat merusak antara 11-176 batang padi per malam. Sedangkan pada saat bunting kemampuan merusak meningkat menjadi 24-246 batang per malam. Kerusakan berat karena serangan tikus biasanya hanya menyisakan beberapa baris tanaman pada bagian tepi. (lyn/tap)
*) Foto kegiatan gropyokan tikus di balen


































.md.jpg)






