Tambang Batu Kapur PT Wira Bhumi Sejati di Desa Gajah
Masalah Kompensasi, Diduga Menjadi Sebab Aksi Protes Warga
Selasa, 27 Oktober 2015 16:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Kota - Tambang galian C, batu kapur, milik PT Wira Bhumi Sejati yang terletak di Desa Gajah Kecamatan Baureno sempat menuai protes dari masyarakat. Namun, protes itu tidak datang dari warga Desa Gajah yang menjadi lokasi tambang. Protes malah dilakukan warga Desa Karang Kembang Kecamatan Babat, karena keberatan banyaknya debu akibat lalu lalang truk pengangkut batu kapur.
Sebagaimana diberitakan BBC, pada Minggu, 11 Oktober 2015, lalu puluhan warga Desa Karang Kembang menutup jalan Babat-Bojonegoro, bertempat di pertigaan jalan menuju lokasi pertambangan batu kapur atau pedel PT Wira Bhumi yang terletak di Desa Gajah.
Dalam aksi tersebut, warga Karang Kembang menuntut kepada PT Wira Bhumi untuk membuat jalan beraspal agar tidak banyak debu yang mengganggu dan menyesakkan pernapasan. Selain itu menuntut agar perusahaan lebih memperhatikan akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan.
Camat Babat Fadheli Purwanto, menuturkan, masyarakat Desa Karang Kembang mengeluhkan aktivitas penambangan PT Wira Bhumi. Selama ini Desa Karang Kembang menjadi jalur lalu lalang truk pengangkut batu kapur milik PT Wira Bhumi Sejati. Warga menganggap perusahaan itu sudah kebablasan dalam melakukan aktivitas tambang.
"Tadinya aktivitas pengangkutannya hanya delapan jam, kini menjadi 24 jam," ujar Fadheli.
Tambang batu kapur milik PT Wira Bhumi Sejati tidak hanya terdapat di Desa Gajah saja, melainkan juga di Kecamatan Babat dan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. Di lokasi itu aktivitas penambangan berjalan baik, masyarakat sekitar tambang juga memperoleh kompensasi.
Namun sudah lama, untuk lokasi tambang di Kabupaten Lamongan sudah habis masa eksploitasi. Termasuk Desa Karang Kembang yang kini hanya menjadi jalur lalu lalang truk pengangkut batu kapur.
Perubahan pola aktivitas penambangan inilah yang kemudian menimbulkan gejolak di masyarakat. Karang Kembang hanya kebagian debu jalanan dan tidak mendapat kompensasi sepeser pun. Diduga kuat hal itu memicu kecemburuan sosial bagi warga Karang Kembang Kecamatan Babat. (lyn/tap)


































.md.jpg)






