Limbah Lantung Diduga Cemari Bengawan Solo
Kamis, 17 Desember 2015 10:00 WIBOleh Khoirul Anam
Oleh Khoirul Anam
Kota - Limbah minyak lantung (sisa minyak mentah yang disuling) diduga mencemari Sungai Bengawan Solo dalam sepekan ini. Indikasinya, selama tiga-empat hari berturut-turut ikan-ikan di sungi terpanjang di Pulau Jawa ini mabuk dan pingsan.
Limbah lantung (menghasilkan solar dan minyak tanah) ini diduga berasal dari penambangan minyak tradisional di beberapa desa di Kecamatan Kedewan. Seperti Desa Wonocolo, Beji dan Hargomulyo, dimana terdapat sekitar 200 sumur minyak tradisional. Meski berjarak sekitar 20 kilometer, lantung kerap mengalir ke Anak Sungai Bengawan Solo di Desa Batokan Kecamatan Kasiman. Limbah itulah yang kemudian masuk ke Sungai Bengawan Solo.
Dalam beberapa hari ini ribuan ikan-ikan di Sungai Bengawan Solo, mabuk dan mudah ditangkap, tepatnya pada Kamis 10 Desember 2015. Kemudian kejadiannya berulang lagi pada Senin 14 Desember hingga 16 Desember 2015, ikan-ikan kembali mabuk. Belakangan diketahui, setelah ikan-ikan itu ditangkap, ternyata berbau minyak dan berwarna cokelat kehitam-hitaman.
Putra,18 tahun, warga Ledok Kulon, yang ikut menangkap ikan di Bengawan Solo, mengatakan, dirinya berhasil mengumpulkan ikan tawes sebesar ibu jari, satu tas plastik sekitar satu kilogram. Namun, setelah sampai di rumah, dan hendak dibersihkan, ikan hasil tangkapan itu berbau minyak. “Baunya mirip lantung,” ujar Nyonya Sutik, orang tua Putra.
Padahal, ikan-ikan yang ada di Sungai Bengawan Solo selama ini jadi konsumsi tetap warga Bojonegoro, Tuban dan sekitarnya. Seperti ikan, jendil (patin lokal), rengkik, tawes, nila, lele, dan juga areng-areng. Ikan ini menjadi pilihan masyarakat ketika muncul isu ikan berformalin—terutama jenis ikan- tangkapan laut. (nam/kik)


































.md.jpg)






